Opa Jappy Lukisastra
Opa Jappy Lukisastra Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Neologisme "Intelektual Kikir"

25 Juli 2026   04:08 Diperbarui: 24 Juli 2026   13:58 296 0 0

Intelektual Kikir | Lukisastra
Intelektual Kikir | Lukisastra


Kritik terhadap Elitisme Intelektual Kaum Akademisi Kikir di Indonesia

Ada anomali sosial terang benderang di Indonesia, yaitu kaum terpelajar dan akademisi (misalnya Profesor, Doktor) menunjukkan sikap kikir dan enggan berbagi ilmu di ruang publik; atau gagal  mengelola kecerdasan untuk berbagi ke Ruang Publik. Agaknya, mereka menggunakan jargon  menjaga jarak sosial.


Intelektual Kikir | Lukisastra 
Intelektual Kikir | Lukisastra 


Tanggung Jawab Moral dan Metakognisi "Intelektual Kikir"


Neologisme "Intelektual Kikir" sebagai kritik terhadap kaum terpelajar yang enggan menyalurkan pemahaman pada publik. Ketika krisis sosial dan ekonomi melanda, masyarakat membutuhkan penjelasan membumi dari para akademisi. Namun, ruang publik justru dijejali istilah teknis dan jargon abstrak.

Kegagalan Sistemik Pendidikan. Kekakuan komunikasi akademisi tersebut berakar pada ketimpangan sistem pendidikan. Karena, umumnya, lembaga pendidikan berfokus penuh pada ranah kognitif, seperti pencapaian nilai dan IPK, sembari mengabaikan dimensi psikomotorik serta afektif berupa empati sosial.

Ketimpangan tersebut mengikis kemampuan metakognisi, yakni kecerdasan menyesuaikan cara penyampaian pesan dengan tingkat pemahaman audiens. Kondisi ini memicu isolasi intelektual, pakar menguasai teori rumit, namun gagal terhubung dengan realitas sekitar. 

Empat Kasta Intelektual. Kapasitas metakognisi membagi figur terpelajar ke dalam empat tingkatan,

  • Intelektual Stagnan. Pasif berbekal gelar akademik tanpa memperbarui ilmu maupun memberi dampak.
  • Intelektual Egois. Menyimpan pengetahuan dan sengaja mengumbar jargon rumit demi pamer dominasi kognitif.
  • Intelektual Elitis. Unggul ketika berdebat di forum akademis, tapi gagap saat berhadapan dengan masyarakat awam.
  • Intelektual Pencerah. Tingkatan tertinggi yang bersedia menerjemahkan kerumitan sains menjadi bahasa sederhana dan bernilai guna.


Modal Budaya dan Malpraktik Akademis. Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan eksklusivitas bahasa dipelihara sebagai modal budaya (cultural capital). Penggunaan istilah rumit bertujuan menjaga jarak hierarki dan mengukuhkan dominasi status sosial. Ketika pakar bersembunyi di menara gading, ruang publik kosong dibajak narasi hoaks dan disinformasi. Sikap pasif ini merupakan bentuk malpraktik intelektual karena mengabaikan kewajiban moral pencerahan publik (due care).

Implikasi Perubahan dan Tantangan Era AI. Pembenahan menuntut perubahan mendasar pada beberapa aspek,

  • Evaluasi Akademis. Penilaian kinerja dosen perlu mengutamakan dampak sosial (social outreach), bukan sekadar kuantitas publikasi jurnal.
  • Metode Feynman. Pakar wajib melatih kemampuan menjelaskan konsep rumit secara sederhana.
  • Kontrol Publik. Masyarakat berhak menuntut kejelasan bahasa karena riset dan pendidikan akademisi didanai uang pajak.


Pengetahuan ibarat mata uang bernilai saat beredar di tengah masyarakat. Kehadiran kecerdasan buatan yang mampu mengolah jurnal rumit secara instan menjadi ancaman nyata bagi pakar elitis.

Akademisi yang menolak menjadi jembatan pencerahan akan kehilangan relevansi sosial.


Opa Jappy | Lukisastra