Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Kritik terhadap Elitisme Intelektual Kaum Akademisi Kikir di Indonesia

Neologisme "Intelektual Kikir" sebagai kritik terhadap kaum terpelajar yang enggan menyalurkan pemahaman pada publik. Ketika krisis sosial dan ekonomi melanda, masyarakat membutuhkan penjelasan membumi dari para akademisi. Namun, ruang publik justru dijejali istilah teknis dan jargon abstrak.
Kegagalan Sistemik Pendidikan. Kekakuan komunikasi akademisi tersebut berakar pada ketimpangan sistem pendidikan. Karena, umumnya, lembaga pendidikan berfokus penuh pada ranah kognitif, seperti pencapaian nilai dan IPK, sembari mengabaikan dimensi psikomotorik serta afektif berupa empati sosial.
Ketimpangan tersebut mengikis kemampuan metakognisi, yakni kecerdasan menyesuaikan cara penyampaian pesan dengan tingkat pemahaman audiens. Kondisi ini memicu isolasi intelektual, pakar menguasai teori rumit, namun gagal terhubung dengan realitas sekitar.
Empat Kasta Intelektual. Kapasitas metakognisi membagi figur terpelajar ke dalam empat tingkatan,
Modal Budaya dan Malpraktik Akademis. Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan eksklusivitas bahasa dipelihara sebagai modal budaya (cultural capital). Penggunaan istilah rumit bertujuan menjaga jarak hierarki dan mengukuhkan dominasi status sosial. Ketika pakar bersembunyi di menara gading, ruang publik kosong dibajak narasi hoaks dan disinformasi. Sikap pasif ini merupakan bentuk malpraktik intelektual karena mengabaikan kewajiban moral pencerahan publik (due care).
Implikasi Perubahan dan Tantangan Era AI. Pembenahan menuntut perubahan mendasar pada beberapa aspek,
Pengetahuan ibarat mata uang bernilai saat beredar di tengah masyarakat. Kehadiran kecerdasan buatan yang mampu mengolah jurnal rumit secara instan menjadi ancaman nyata bagi pakar elitis.
Akademisi yang menolak menjadi jembatan pencerahan akan kehilangan relevansi sosial.