Aku belajar menjadi langit,
tetap tenang
meski berkali-kali dipenuhi mendung.
Tak semua petir
harus didengar manusia,
tak semua hujan
harus jatuh di depan mata.
Ada hari-hari
ketika langkah terasa asing,
seakan kaki ini berjalan
namun jiwa tertinggal
di tempat yang pernah disebut harapan.
Aku pernah mengetuk banyak pintu,
mencari tempat pulang
di hati manusia.
Namun semakin lama aku mengerti,
tidak semua pelukan
mampu menghapus kehilangan.
Maka aku memilih diam,
bukan sebab dunia tak layak mendengar,
tetapi sebab luka
kadang tumbuh semakin sakit
ketika terlalu sering dijelaskan.
Malam menjadi saksi
betapa hati bisa begitu gaduh
meski bibir tak mengucap apa-apa.
Di sela gelap,
aku berbicara dengan diriku sendiri:
"bertahanlah sedikit lagi,
meski dunia tak selalu mengerti."
Ada yang pergi
tanpa sempat pamit.
Ada mimpi
yang runtuh sebelum tumbuh.
Ada percaya
yang pecah perlahan,
hingga aku belajar
bahwa kehilangan
tak pernah meminta izin.
Namun hidup rupanya aneh---
di saat semuanya terasa runtuh,
selalu ada tangan tak terlihat
yang menahan jatuhku.
Saat manusia menjauh,
aku menemukan tenang
dalam doa-doa yang tak pernah ramai.
Kini aku tak lagi meminta
semua orang memahami luka.
Sebab beberapa perang
memang harus dimenangkan sendiri.
Jika esok aku masih tersenyum,
itu bukan tanda
bahwa hidup telah mudah.
Hanya saja,
aku sedang belajar berdamai
dengan hal-hal
yang tak bisa lagi kembali.