Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Takbir menggema di langit desa,
Anak-anak membawa cahaya,
Obor kecil penuh bahagia.
Namun di balik malam mulia,
Hatiku sunyi menyimpan luka.
Malam takbir terasa berbeda,
Rindu datang tanpa diminta,
Teringat wajah Bunda tercinta,
Juga Ayah penuh kasihnya.
Rumah yang dulu penuh tawa,
Kini tinggal doa tersisa.
Aku menahan jatuh air mata,
Namun rinduku terlalu nyata,
Mengalir deras bagai samudra,
Menusuk hingga relung jiwa.
Di bawah gema takbir raya,
Namamu hadir dalam doa.
Bunda... dengarkah anakmu ini?
Masih menyimpan kasih suci,
Belum sempat membalas budi,
Waktu memisahkan terlalu dini.
Kini hanya doa kupanjati,
Agar tenang di sisi Ilahi.
Ayah... rinduku tak pernah usai,
Meski waktu terus terurai,
Nasihatmu masih terpakai,
Dalam langkah hidup yang damai.
Meski jasad tak lagi tergapai,
Cintamu tetap tak terlerai.
Allahu Akbar menggema lagi,
Menyentuh hati yang sepi ini,
Idul Adha menjadi saksi,
Rindu anak tak pernah pergi.
Dalam sujud di sunyi pagi,
Kupeluk kalian lewat doa suci.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Jika rindu punya suara,
Mungkin langit ikut bicara,
Tentang anak yang kehilangan cinta.
Bunda Ayah, tunggulah di sana,
Kelak kita bersama di surga.