Khoirul Taqwim
Khoirul Taqwim Lainnya

Peneliti Tentang Kemasyarakatan

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Lagu - Mengemis Waras di Lima Jalan

28 Mei 2026   06:49 Diperbarui: 28 Mei 2026   06:49 75 3 0


Dada sesak dihantam badai yang kelam
Lima jalan hati membentang penuh siksaan malam
Semua begitu terjal, curam, mengiris kalbu
Membuat air mata darah jatuh satu demi satu
Lama ku berdiri memeluk luka yang menganga
Menatap perih yang tak kunjung reda

Jalan pertama adalah rindu yang merobek dada
Jalan kedua penuh serpihan masa lalu yang durjana
Jalan ketiga mati, sunyi mengubur sepi
Jalan keempat hancur oleh janji yang dikhianati
Dan jalan kelima, pekat tertutup kabut duka
Semua ujungnya hanyalah neraka dan air mata

Dengan jiwa yang remuk dan kaki yang gemetar
Kupilih satu jalan di antara duri yang mencakar
Bukan karena kuat aku sanggup melangkah pergi
Tapi karena takdir tega menyeret diri ini
Kukatakan pada dada yang hancur berantakan
"Menangislah, tak ada lagi yang bisa diselamatkan"

Namun waktu justru menusuk tepat di luka
Arusnya menyeretku melewati tebing-tebing berdarah
Di setiap tikungan yang terjal dan menyiksa
Hanya jeritan batin yang bergema sia-sia
Aku tahu di dalam dasar hancurnya batinku
Takkan pernah bisa aku menyembuhkan diriku

Langkahku pincang tertatih di atas pecahan kaca
Menangisi pilihan yang berujung sia-sia
Tak ada pelukan, tak ada tangan yang menopang
Hanya bayang-bayang masa lalu yang datang menyerang
Aku tersungkur di sudut jalan yang paling sunyi
Mempertanyakan mengapa harus aku yang mati berkali-kali

Kini bertahun-tahun setelah badai itu mereda
Cacat di lima jalan hati ini masih menganga di dada
Akan kukisahkan pada dunia dengan sisa isak tangis
Bahwa jalan paling terjal ini telah membuatku habis
Bukan sebuah akhir yang indah penuh kemenangan
Melainkan kutukan hidup yang harus kupikul dalam keheningan

Satu detik sebelum memilih, aku tak pernah tahu
Bahwa melangkah maju berarti membunuh diriku yang dulu
Kini di ujung jalan yang asing dan melepuh
Aku hanyalah sisa-sisa manusia yang telah lumpuh
Menerima kenyataan pahit yang terus mengalir
Bahwa keputusan hari itu, adalah awal dari takdir yang berakhir