Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Ada baiknya, sebelum lanjut baca, Anda Nonton Video. Kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak dengan modus Child Grooming merupakan tindakan kejahatan "dalam kesunyian," berlangsung lama, "tersembunyi dan bersembunyi" secara terbuka (terutama pada sejumlah kasus di Institusi Pendidikan Berasrama), dengan korban lebih dari satu hingga puluhan orang (bahkan ratusan) di berbagai tempat kejadian. Karena Predator Child Grooming tidak melakukan proses eksploitasi seksual kekerasan instan, tapi melalui manipulasi psikologis yang sistematis, membangun ikatan emosional dan kepercayaan dengan korban, ketergantungan, dan ketakutan komunikasi dengan orang lain (misalnya bercerita, curhat, melaporkan).
Menghadapi kasus-kasus terstruktur itu, tidak bisa mengandalkan gerakan sporadis, sendiri, atau pun "bukan urusan saya." Tapi, semua elemen bangsa harus mendengar dan mengikuti panggilan kemanusiaan agar melawan Predator Child Grooming demi Keselamatan Anak-anak dan Peradaban.
Cara terbaik melalui Pendekatan Pentahelix, kolaborasi lima pilar yang saling mengunci, agar menciptakan perisai perlindungan yang kokoh pada anak-anak. Sinergi Pentahelix dan Integrasi Multimedia untuk melawan Child Grooming merupakan kerangka komprehensif, tajam, dan sangat relevan dengan realitas sosial, dan kekuatan perlawanan sangat kuat.
Pentahelix" dari "penta" atau lima; "helix" atau jalinan, jaringan, kait-mengait. Pendekatan Pentahelix memiliki beberapa keunggulan, antara lain,
Komposisi keberagaman entitas tersebut dikelola atas dasar pendekatan tata kelola kolaboratif. Tata kelola kolaboratif, pemerintahan secara langsung melibatkan pihak terkait dalam proses pengambilan keputusan bersama.
Kolaborasi dengan cepat mengatasi permasalahan di masyarakat melalui serangkaian faktor kolaboratif. Faktor-faktor tersebut antara lain musyawarah, membangun kepercayaan, mengembangkan komitmen, dan saling pengertian.
