Langkah-langkah berat di bawah langit yang kian meredup
Udara malam berbisik, membawa kabar yang meredam hidup
Kita berjalan beriringan dalam sunyi yang terasa begitu panjang
Memikirkan satu jiwa yang di sana sedang bertaruh nyawa dan berjuang
Kabar kelam itu datang, mematahkan semua tawa yang tersisa
Kalimat penghibur kita mendadak hambar, kehilangan semua daya
Ada mata yang menatap tanah, menahan badai yang hampir tumpah
Menatap lembar kalender yang mendadak terasa begitu berharga dan murah
Di sudut jalan setapak, langkah kaki ini tiba-tiba tertahan
Melihat jemari legam seorang tua yang menjajakan masa depan
Seekor burung kenari kecil berdiri di atas kotak penuh warna
Menawarkan secarik jawaban di antara takdir dunia yang fana
Uang receh berpindah tangan, sebuah pertaruhan kecil dimulai
Bukan karena percaya ramalan, tapi karena logika telah letih terkulai
Saat takdir terasa begitu angkuh dan tak bisa diajak bicara
Manusia akan mengetuk pintu mana saja demi seulas senyum yang mereda
Burung kecil melompat tenang, mematok selembar kertas yang tersimpan
Memungut satu demi satu sisa harapan yang hampir berantakan
Kita kumpulkan detak demi detak yang tersisa di sore ini
Menyusunnya menjadi benteng, agar hati tak runtuh dalam sepi
Orang bijak zaman dahulu pernah menulis tentang garis langit dan angka
Bahwa raga manusia ada batasnya, tak ada yang bisa mengira
Namun selama napas masih berembun di bawah dinginnya malam
Kita punya hak untuk menolak menyerah pada gelap yang mencengkeram
Mungkin suatu hari nanti, ingatan tentang cemas ini akan mengabur
Kita akan lupa sedalam apa luka yang hari ini membuat kita lebur
Namun malam ini di kaki bukit, biarlah kertas kecil itu berbicara
Bahwa cinta kita lebih abadi daripada angka-angka yang tertulis di sana