Saat engkau menulis surat dan kubaca perlahan,
terasa aku masuk ke ruang sunyi para sufi zaman dahulu,
tempat cinta kepada Tuhan tak lagi membutuhkan kata,
karena setiap denyut hati telah menjadi doa.
Bahasamu begitu lembut,
seperti seseorang yang telah lama bersahabat dengan malam,
indah bukan hanya karena susunan katanya,
tetapi karena ada ketulusan yang berdiam di baliknya.
Aku membaca namamu di antara baris-baris surat,
lalu menemukan wajah yang seolah menyimpan keteduhan.
Sungguh indah bahasamu,
seindah nasab yang engkau bawa dan wajah yang Tuhan anugerahkan.
Namun lebih dari wajah dan nasab itu,
aku ingin mengenal hatimu---
sebab keindahan yang paling lama tinggal
bukan yang terlihat oleh mata, melainkan yang mendekatkan jiwa kepada-Nya.