Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Esai Digital, "Topeng Salah Paham"

24 September 2026   08:57 Diperbarui: 24 September 2026   08:57 224 1 0

Topeng Kebohongan|Opa Jappy
Topeng Kebohongan|Opa Jappy


Menyingkap Topeng "Salah Paham" | Membongkar Kebohongan Sistemik dalam Penanganan Intoleransi


Peristiwa penolakan, intimidasi, hingga penutupan paksa tempat-tempat ibadah kelompok minoritas masih melanda berbagai daerah di Indonesia. Namun, ada pola unik selalu menyertai penanganan kasus tersebut, yaitu penggunaan kalimat penenang secara instan, "Ini hanya masalah salah paham." Narasi itu terus berulang sebagai formula resmi penutupan konflik. Padahal, Sesungguhnya, mereduksi tindakan intimidasi terencana menjadi sekadar miskomunikasi adalah bentuk pengabaian terhadap akar masalah sesungguhnya. Klaim "salah paham" pada hakikatnya hanyalah topeng pelindung yang menutupi kejahatan berbasis kebencian dan diskriminasi sistemik.

Mitos "Salah Paham" dan Praktik Gaslighting Publik. Secara kebahasaan, "salah paham" merujuk pada kegagalan menangkap informasi akibat kurangnya komunikasi. Tapi, pada konteks tindak intoleransi terhadap tempat ibadah, motif di balik aksi penutupan atau perusakan didorong prasangka ideologis dan kebencian kelompok. Ketika pihak berwenang atau narasi publik menyematkan label "salah paham" pada tindakan kekerasan tersebut, yang terjadi adalah bentuk pemalsuan realita. Pendekatan tersebut secara halus mendiskreditkan trauma psikologis para korban dan menghapus jejak kejahatan yang sebenarnya berdimensi pidana.

Ritual Kesepakatan Damai dan Langgengnya Impunitas. Penyelesaian konflik intoleransi di Indonesia terjebak "ritual" mekanis. Pola itu dimulai dari penyerangan atau intimidasi oleh kelompok mengatasnamakan mayoritas, disusul pembentukan narasi salah paham, dan diakhiri dengan seremoni penandatanganan surat kesepakatan damai.

Nampak efektif mendinginkan suasana secara instan! Sayangnya solusi pragmatis itu menyisakan celah berbahaya. Tanpa adanya tindakan hukum tegas, ritual damai tersebut justru memberi jaminan kebal hukum (impunitas) bagi para pelaku, seolah merestui aksi serupa untuk diulang kembali di masa depan.

Agar keluar dari lingkaran kebohongan, Indonesia harus berani menanggalkan topeng "salah paham" dan berhadapan langsung dengan realita intoleransi secara jujur dan adil. Keberagaman dalam Bhinneka Tunggal Ika hanya akan menjadi slogan kosong jika perbedaan dijaga melalui kepura-puraan dan penindasan yang disembunyikan.

Sudah saatnya hukum dan keadilan ditegakkan demi kedamaian yang sejati.

Opa Jappy | Lukisastra
Indonesia Hari Ini


Sumber Bahasan di Esai Digital

  1. Jurnal Academia 
  2. Google Drive Opa Jappy
  3. Jakarta News