Mengapa engkau begitu sempurna?
Wajahmu indah, langkahmu begitu anggun,
nasabmu tinggi, hartamu luas,
dan kuasamu seakan tak tersentuh oleh tanganku.
Lalu mengapa takdir mempertemukan aku denganmu,
jika sejak awal kita seperti dua dunia
yang hanya boleh saling memandang,
namun tak pernah ditakdirkan untuk berdampingan?
Mungkin aku hanyalah tanah
yang diam-diam mengagumi langit,
memandangmu dari kejauhan,
tanpa pernah berani berharap dapat memeluk cakrawala.
Pertemuan ini mungkin bukan untuk memiliki,
melainkan untuk mengajarkanku
bahwa ada seseorang yang begitu indah
hingga mencintainya pun terasa seperti sebuah doa.
Jika akhirnya engkau tetap menjadi langit
dan aku tetap menjadi tanah,
biarlah namamu tinggal dalam doaku---
sebagai mimpi yang indah, meski tak pernah menjadi nyata.