Trie Yas
Trie Yas Jurnalis

Sehari-hari bekerja sebagai Graphic design, editing foto, editing video (motion graphic). Namun tetap menulis buat menyeimbangkan hidup.

Selanjutnya

Tutup

Video Artikel Utama

[Video] Bicara Sastra Bersama Seno Gumira Ajidarma

29 Agustus 2019   14:12 Diperbarui: 31 Agustus 2019   14:11 121 6 3

Seno Gumira Ajidarma menekuni dunia sastra sejak menonton salah satu pentas W.S Rendra. Saat itu usianya masih muda, duduk dibangku SMP. Semenjak mengikuti bengkel teater Rendra ia mulai bereksperimen dalam dunia teater dan juga tulisan. Ia mengaku bisa menulis 20-25 puisi dalam semalam, lantas dikirim terus hingga akhirnya tembus Majalah Horison.

Ketika memutuskan menikah muda, Mau tak mau ia harus berpikir cari kerja tetap, menjadi wartawan adalah pilihan utamanya karena dirasa gampang sebab ia sudah biasa tulis puisi, cerpen dan essay yang lebih berat. Namun ternyata satrawan dan wartawan itu memiliki tantangan berbeda.

Sebagai seorang  wartawan tugasnya adalah  Investigasi, Membongkar kasus, Deadline. Semua itu tentu melelahkan dan tidak mengenakan, apalagi jurnalisme pada masa Orde Baru mengalami kekangan. yang semua serba dibatasi, mengkritik pemerintah bisa dipecat sampai diteror. Semua itu sangat disadar penulis 'Dunia Sukap' ini.

Namun, Seno Gumira Ajidarma tetap menerobos batasan itu dengan terus menulis dan berkarya. Tidak hanya berani melawan aturan, tetapi juga mempunyai semangat untuk mengungkapkan kebenaran. Jadi ketika jurnalisme dibungkap, ia melawan tulisan dalam bentuk lain, sastra.

Seperti tulisannya tentang Timor Timur yang tidak bisa dimuat di berita Namun pelarangan itu bukannya membuatnya berhenti namun malah membakar semangatnya untuk tetap menulis dan menulis terus.  Hingga akhirnya terbit kumpulan cerpen 'Saksi Mata'.

Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara 

Dalam Episode ini, kita akan Bicara Sastra dengan Seno Gumira Ajidarma