masrierie
masrierie Lainnya

menulis dalam ruang dan waktu -

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Nostalgia 1977,Jalan Kaki ke Lembang, Lewat Punclut Tempo Dulu .

28 Agustus 2025   11:43 Diperbarui: 28 Agustus 2025   11:53 168 3 2

Foto: Dokumentasi Pribadi, masrierie/ kompasiana
Foto: Dokumentasi Pribadi, masrierie/ kompasiana


Video yang sama aku unggah juga di Facebook @darsri sri

CERITA VIDEOKU 

Tahun 1977,pagi sekali kami  sudah siap berangkat, setelah sarapan. Hari Minggu  pagi yang cerah,  ayah ibu mengajak kami berjalan kaki ke Lembang.  

Kami akan berkunjung ke rumah Ceu Oom, masih keluarga sahabatnya ibu. Ceu Oom   suka mampir d rumah kami  dan bercerita perjalanan  ke rumah orang tuanya di Lembang suka ditempuh dengan berjalan kaki.

Ceu Oom  akhirnya mengundang kami untuk  ke rumah orang tuanya di Lembang. Ibu menitip sedikit uang untuk  orang tua Ceu Oom,  untuk membuatkan makan siang. 

Pagi sekali  kami sudah berangkat mengendarai mobil. Kami membawa keranjang berisi bekal minum untuk di jalan dan sedikit cemilan ala kadarnya.

Mobil kami diparkir  di sekitar Rumah Sakit AURI (Salamun) .

Siap berjalan kaki. Turun dari mobil sambil melihat kanan kiri. 

Areal yang kami lewati saat itu , sekarang populer dengan kawasan wisata Punclut. Banyak villa dan resto  , jalannya sudah beraspal  menembus ke arah Dago dan Lembang. 

Untungnya jalanan sedang tidak becek. Namun tetap saja tanah liat menempel juga di sendal dan sepatu kami. Jalanannya masih dalam bentuk tanah, belum di aspal seperti sekarang.,  menanjak, luar biasa melelahkan. Maka sebentar sebentar kami  duduk  di pinggiran jalan, minum. Rehat dulu. 

Lanjut lagi,  kadang samnil terengah-engah.

Untungnya pemandangan kiri kanan sangat mengesankan. Sawah berumpak,ladang hijau, lembah dan bukit  yang mendamaikan jiwa. Tak bosan menatap bentang alam. Hawa segar  dan  kesejukan berbaur dengan hangat matahari pagi.

Ada sedikit rumah penduduk dan balong ikan . Kiri kanan  banyak ilalang dan belukar.

Beberapa jam kemudian, akhirnya kami sampai di Lembang. Melewati  rumah-rumah penduduk, tiba di ruah orang tua Ceu Oom. Mereka semua sangat ramah. Rumahnya sederhana khas pedesaan Priangan.

Di dalam rumah yang sejuk,  tikar anyaman terhampar. Kami duduk menikmati sajian teh hangat. Juga jajanan pasar  . 

Tak lama kemudian makan siang tersaji. Nasi  hangat mengepul di bakul anyaman bambu  . Nasinya berasa manis  , karena langsung dari pemnggilingan ppadi yang sawahnya juga tak jauh dari rumah ini. Lalaban yang  diambil dari kebun, ikan goreng yang diambil dari balong. Ikan asin  dan sambal ulek terasi  serta kerupuk jadi menu  spesial juga.

Kami  saling bercerita  dan mengobrol. Lalu mengitari keindahan desa  di Lembang. Banyak bunga-bunga berwarna  mempercantik suasana.

Lewat lohor, kami beranjak pulang . Melewati kembali jalur  Punclut, dan  tidak semelalahkan berangkatnya. Pulangnya jalan menurun. Kembali menikmati pesona lembah dan bukit yang  hijau. Padi di sawah yang meliuk dalam  hembusan angin, ilalang  dan bunga rumput bergoyang,  gemericik  sungai dan selokan yang airnya  berdih jernih.

Hari ini , tahun 2025, setelah 48 tahun kemudian, jalan  tsb telah menjadi jalan raya beraspal , yang bisa tembus ke Dago dan Lembang. 

Sebelumnya Punclut  sempat jadi area wisata jalan kaki dan berkuda. Warung-warung non permanen  pernah berjajar di pinggir jalan. Penjual timbel dan nasi merah serta nasi hitam dengan lauk pauk  yang merakyat dan  lezat dijajakan di sini. Tutut (keong sawah) yang dimasak dengan bumbu kuning juga dijajakan. Menikmati  jajanan sambil lesehan di saung-saung  bambu bertiang dari anyaman bambu, sangat mengesankan.

Seiring perjalanan waktu, tahun 2020 an sudah berubah  total.

Ada  objek wisata Wow  Sarae Hill, Dago Bakery, Puncak Punclut, dan resto serta cafe-cafe  mewah.  Juga hotel dan penginapan bermunculan, rumah-rumah mewah  semakin bertumbuh di sini. 

TENTANG VIDEO LAWAS INI

Video lawas ini aku bagikan di Instagram.  Berbagi kenangan. Ayah  merekamnya menggunakan kamera jadul  yang ayah beli di Malaysia saat bertugas beberapa tahun di Malaysia. Bentulknya dalam  roll film  kecil, dan hanya  beberapa menit, film bisu yang sangat  pendek. Untuk menontonnya harus menggunakan projector mini . Kedua alat tersebut kini sudah rusak.

Tahun 2007 kami sempat menemukan jasa tranfer film  tersebut ke VCD.  Perusahaan jasa tersebut memiliki alat putar Projector , lalu mensyuting ulang. Hasilnya lumayan, sayangnya resolusinya  sangat rendah sesuai teknologi saat itu. 

Sekarang  kami masih berharap ada jasa tranfer film ini ke digital dengan resolusi yang lebih tinggi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3