"Pak... ibu... tolong saya...."
Suara itu pelan, nyaris berbisik, namun terdengar sangat jelas tepat di balik kain tenda kami. Saya dan istri tertegun, saling berpandangan dengan wajah pucat. Itu adalah malam di mana kami sadar, Gunung Salak tidak sekadar menguji fisik, tapi juga mental, dengan caranya yang paling mengerikan.
Cinta Alam Sejak SMP
Mendaki dan berkemah bukanlah hal baru bagi saya dan istri. Hobi ini sudah kami tekuni bersama sejak zaman sekolah (SMP-SMA), lanjut saat bangku kuliah, hingga kami menikah. Masuk hutan, menyusuri sungai, bahkan menelusuri goa adalah makanan sehari-hari.
Dari puluhan kali berkemah, sebagian besar lancar jaya. Namun, kami mencatat ada sekitar 15 kali kejadian "bau" horor yang menghampiri. Awalnya kami anggap itu hanya bumbu perjalanan, sampai akhirnya kejadian di Gunung Salak ini menampar kami bahwa ada tempat yang memang tidak boleh diganggu.
Keputusan Menjelajah Jalur Baru
Biasanya, kami menggunakan jalur pendakian yang familier. Namun, kali ini kami ingin mencoba suasana baru melalui jalur Cidahu, Sukabumi. Kami mencari spot berkemah yang lebih tenang, bukan tempat yang sering digunakan pendaki lain.
Sesampainya di tempat yang dirasa cocok, kami mendirikan tenda, memasak, makan malam, dan menunaikan ibadah shalat. Suasana malam itu tenang, terlalu tenang, sampai akhirnya keheningan itu pecah.
Teror "Tolong Saya"
Tengah malam, setelah beristirahat, suara perempuan terdengar.
"Pak... Ibu... Tolong saya..."
Suaranya berulang-ulang. Merinding? Jelas. Saya memberanikan diri membuka tenda dan keluar membawa senter, memastikan apakah ada pendaki lain yang tersesat.
Nihil. Yang saya lihat hanya pepohonan rapat. Namun, di salah satu ranting pohon dekat tenda, ada sehelai kain lusuh yang menggantung. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Saya kembali masuk tenda dengan perasaan tidak enak. Suara itu terdengar lagi. Saya dan istri akhirnya hanya bisa saling berpelukan dan berdoa, memohon perlindungan dari gangguan tak kasat mata sepanjang malam.
Jalan yang Hilang dan Penyesalan Warga
Paginya, kami langsung berkemas untuk segera turun ke basecamp. Keanehan kedua terjadi. Jalan yang kami lalui kemarin sama sekali tidak ada. Padahal, saya tipe orang yang hati-hati-saya memasang tanda dengan tali rafia di beberapa bagian.
Tali rafia yang saya pasang hilang. Jalur seakan-akan berubah total. Kami berputar-putar hampir 6 jam, jauh lebih lama dari waktu naik, sebelum akhirnya bertemu dua pendaki remaja yang menunjukkan jalan turun.
Sesampainya di parkiran basecamp Cidahu, lutut saya lemas setelah mendengar penjelasan warga setempat. Tempat kami berkemah dulu adalah lokasi tragis. Seorang pendaki perempuan meninggal di sana, dan sejak kejadian itu, banyak pendaki yang berkemah di dekat situ sering mendengar suara perempuan meminta tolong.
Catatan Akhir:
Mungkin saja, "wanita" itu hanya butuh ditemani, atau mungkin dia ingin memastikan kami tidak tenang. Sampai sekarang, jeritan pelan itu masih sering terngiang, dan sehelai kain lusuh di tengah hutan itu menjadi saksi bisu, bahwa di atas sana, kami tidak pernah benar-benar sendiri.
Hati-hati saat berkemah di jalur Cidahu, mungkin "dia" sedang memperhatikan tenda Anda.
Kompasiner yang ingin menonton video Horor pendakian kami yang lain bisa melihat link di bawah ini...Terima kasih.
1. https://www.youtube.com/watch?v=iRqJaVUg2h0&list=PLBUK_mwrA0L5wT0JmM2cUBF_--I_gx0qb&index=1&t=33s
2. https://www.youtube.com/watch?v=FDAsTLX_1dA&list=PLBUK_mwrA0L5wT0JmM2cUBF_--I_gx0qb&index=2
3.https://www.youtube.com/watch?v=qA7vdu5K0lk&list=PLBUK_mwrA0L5wT0JmM2cUBF_--I_gx0qb&index=3
4.https://www.youtube.com/watch?v=tx2s-ooSqY0&list=PLBUK_mwrA0L5wT0JmM2cUBF_--I_gx0qb&index=4&t=28s
5.https://www.youtube.com/watch?v=EXY3aPotgfg&list=PLBUK_mwrA0L5wT0JmM2cUBF_--I_gx0qb&index=6&t=3s
untuk yang lebih lengkap silahkan liat: Explore Indonesia