Video

"Dari Ombak Samudra Hindia ke Puncak Merapi: Kisah Nyata Perjalanan Kami Menyusuri Yogyakarta dan Jawa Tengah"

16 Mei 2026   19:49 Diperbarui: 16 Mei 2026   19:49 123 16 9

Keduanya merupakan bagian dari Kompleks Candi Arjuna, kelompok candi terbesar dan paling terawat di kawasan Dieng, dibangun sekitar abad ke-7 hingga ke-8 Masehi pada masa awal Kerajaan Mataram Kuno. Berbeda dengan candi-candi di Prambanan atau Borobudur yang megah dan besar, candi-candi di Dieng memiliki bentuk yang lebih sederhana, kokoh, dan beraliran Hindu Siwa. Nama-nama Arjuna dan Semar sendiri bukanlah nama asli dari masa pembangunannya, melainkan pemberian masyarakat setempat di kemudian hari yang terinspirasi dari tokoh pewayangan Jawa.

Candi Arjuna: Simbol Keagungan dan Kesempurnaan Arsitektur Dieng

 Candi Arjuna adalah bangunan terbesar, tertinggi, dan paling utuh di seluruh kompleks ini. Sebagai candi utama, ia menjadi pusat perhatian dan menjadi contoh paling lengkap dari gaya arsitektur khas Dieng yang kaku, tegas, namun penuh makna filosofis.

Bentuk dan Arsitektur

Candi ini berdenah bujur sangkar dengan ukuran sisi sekitar 8 meter, menghadap ke arah barat - arah matahari terbenam yang dalam kepercayaan Hindu dikaitkan dengan pelepasan jiwa atau pemujaan. Tingginya mencapai sekitar 9 meter, dibangun sepenuhnya dari batu andesit yang disusun rapi tanpa perekat, dengan teknik pertemuan batu yang sangat presisi hingga kokoh bertahan lebih dari 1.200 tahun.

Ciri khas utamanya terlihat pada bentuk atapnya yang bertingkat-tingkat, semakin ke atas semakin mengecil, dan berujung pada bentuk persegi kecil. Dinding luarnya polos dan tidak banyak dihiasi ukiran rumit, berbeda dengan candi-candi yang dibangun belakangan. Namun, di bagian atas pintu masuk terdapat ukiran kepala Kala, simbol penolak bala yang umum ditemukan di candi-candi Jawa kuno. Di sisi utara, timur, dan selatan dinding candi terdapat relung-relung yang dulunya berisi arca dewa-dewi, meski kini sebagian besar sudah hilang atau rusak.

Ruang di dalam candi cukup luas dan gelap, di tengahnya terdapat alas berbatu yang dulunya menjadi tempat meletakkan Lingga dan Yoni- simbol utama pemujaan Dewa Siwa. Bentuk bangunan yang kokoh dan tertutup ini dipercaya dirancang untuk menahan angin kencang dan suhu dingin ekstrem khas Dieng.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Fungsi dan Makna

Sebagai candi utama, Candi Arjuna berfungsi sebagai tempat pemujaan utama bagi para pendeta dan raja pada masa itu. Nama "Arjuna" disematkan karena masyarakat menganggap bangunan ini paling gagah dan sempurna, layaknya tokoh Arjuna dalam kisah Mahabharata yang dikenal cerdas, berani, dan berbudi luhur. Secara filosofis, bangunan ini juga melambangkan Gunung Mahameru, gunung suci tempat bersemayamnya para dewa, yang bentuknya ditiru dalam susunan atap bertingkat tersebut.

Candi Semar: Sang Pendamping yang Penuh Keunikan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3