"Setelah Pantai, Kami Menemukan Sesuatu yang Lebih Dalam: Candi dan Makna Kehidupan"
EPISODE 17 -- Candi
Candi Arjuna dan Candi Semar: Dua Sahabat Abadi di Dataran Tinggi Dieng

Selamat malam kompasianer!
Kami tiba di Dieng pada jam 01.15, masih ramai komunitas dan keluarga yang menikmati suasana Dieng dengan caranya masing-masing, ada yang menikmati di warung pinggir jalan, ada yang di teras hotel dan ada yang nongkrong di depan caf, tidak menghiraukan dinginnya udara Dieng.
Kami masih mencari Hotel yang kosong dan yang ramah untuk kantong kami, karena kami butuh dua kamar dan perjalanan kami masih Panjang.
Alhamdulillah kami dapat kamar dengan harga Rp. 250.000,- kami dua malam disini, besok menikmati candi dan destinasi sekitarnya, dan lusa menikmati edelweis di ketinggian.
Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah, bukan hanya dikenal sebagai kawasan dengan udara sejuk dan pemandangan alam yang memukau. Di sini, di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, tersebar gugusan candi tertua di Jawa Tengah yang menjadi saksi kejayaan peradaban masa lalu. Di antara sekian banyak peninggalan itu, Candi Arjuna berdiri sebagai bangunan paling utama dan paling terkenal, sementara tepat di sisi baratnya berdiri Candi Semar - candi pendamping yang memiliki keunikan dan kisah tersendiri, saling melengkapi seperti dua sahabat yang tak terpisahkan.

Keduanya merupakan bagian dari Kompleks Candi Arjuna, kelompok candi terbesar dan paling terawat di kawasan Dieng, dibangun sekitar abad ke-7 hingga ke-8 Masehi pada masa awal Kerajaan Mataram Kuno. Berbeda dengan candi-candi di Prambanan atau Borobudur yang megah dan besar, candi-candi di Dieng memiliki bentuk yang lebih sederhana, kokoh, dan beraliran Hindu Siwa. Nama-nama Arjuna dan Semar sendiri bukanlah nama asli dari masa pembangunannya, melainkan pemberian masyarakat setempat di kemudian hari yang terinspirasi dari tokoh pewayangan Jawa.
Candi Arjuna: Simbol Keagungan dan Kesempurnaan Arsitektur Dieng
Candi Arjuna adalah bangunan terbesar, tertinggi, dan paling utuh di seluruh kompleks ini. Sebagai candi utama, ia menjadi pusat perhatian dan menjadi contoh paling lengkap dari gaya arsitektur khas Dieng yang kaku, tegas, namun penuh makna filosofis.
Bentuk dan Arsitektur
Candi ini berdenah bujur sangkar dengan ukuran sisi sekitar 8 meter, menghadap ke arah barat - arah matahari terbenam yang dalam kepercayaan Hindu dikaitkan dengan pelepasan jiwa atau pemujaan. Tingginya mencapai sekitar 9 meter, dibangun sepenuhnya dari batu andesit yang disusun rapi tanpa perekat, dengan teknik pertemuan batu yang sangat presisi hingga kokoh bertahan lebih dari 1.200 tahun.
Ciri khas utamanya terlihat pada bentuk atapnya yang bertingkat-tingkat, semakin ke atas semakin mengecil, dan berujung pada bentuk persegi kecil. Dinding luarnya polos dan tidak banyak dihiasi ukiran rumit, berbeda dengan candi-candi yang dibangun belakangan. Namun, di bagian atas pintu masuk terdapat ukiran kepala Kala, simbol penolak bala yang umum ditemukan di candi-candi Jawa kuno. Di sisi utara, timur, dan selatan dinding candi terdapat relung-relung yang dulunya berisi arca dewa-dewi, meski kini sebagian besar sudah hilang atau rusak.
Ruang di dalam candi cukup luas dan gelap, di tengahnya terdapat alas berbatu yang dulunya menjadi tempat meletakkan Lingga dan Yoni- simbol utama pemujaan Dewa Siwa. Bentuk bangunan yang kokoh dan tertutup ini dipercaya dirancang untuk menahan angin kencang dan suhu dingin ekstrem khas Dieng.

Fungsi dan Makna
Sebagai candi utama, Candi Arjuna berfungsi sebagai tempat pemujaan utama bagi para pendeta dan raja pada masa itu. Nama "Arjuna" disematkan karena masyarakat menganggap bangunan ini paling gagah dan sempurna, layaknya tokoh Arjuna dalam kisah Mahabharata yang dikenal cerdas, berani, dan berbudi luhur. Secara filosofis, bangunan ini juga melambangkan Gunung Mahameru, gunung suci tempat bersemayamnya para dewa, yang bentuknya ditiru dalam susunan atap bertingkat tersebut.
Candi Semar: Sang Pendamping yang Penuh Keunikan
Tepat di sisi barat daya Candi Arjuna, berjarak hanya sekitar 10 meter, berdiri bangunan yang lebih kecil, lebih rendah, dan bentuknya sedikit berbeda, yaitu Candi Semar. Ia adalah candi pendamping langsung dari Candi Arjuna, dan memiliki karakteristik yang membuatnya sangat istimewa dibandingkan candi lain di kompleks ini.
Bentuk dan Arsitektur
Candi Semar berdenah bujur sangkar dengan ukuran sisi sekitar 6 meter dan tinggi sekitar 7 meter. Sekilas bentuknya mirip dengan Candi Arjuna, namun ada perbedaan mencolok: atapnya hanya terdiri dari dua tingkat saja, lebih rendah dan lebih sederhana. Dindingnya juga lebih tebal dan bentuknya terasa lebih "gempal" atau padat.
Keunikan terbesarnya terletak pada arah hadap dan bentuk pintunya. Berbeda dari candi lain yang menghadap barat, Candi Semar justru menghadap ke timur - berhadapan langsung dengan Candi Arjuna. Selain itu, di bagian dalam ruangannya terdapat sebuah bangunan batu berbentuk seperti bangku atau panggung kecil yang menyatu dengan lantai. Tidak ada relung di dinding samping, dan ukiran di atas pintu masuknya pun jauh lebih sederhana.
Nama "Semar" diberikan oleh masyarakat karena bentuknya yang terlihat tua, pendek, kokoh, dan bijaksana - persis seperti tokoh Semar, sosok panutun dan penasihat yang setia dan berwibawa dalam budaya Jawa.

Fungsi dan Makna
Para ahli sejarah dan arkeologi menduga fungsi Candi Semar berbeda dengan Candi Arjuna. Jika Arjuna adalah tempat pemujaan dewa, maka Semar kemungkinan besar berfungsi sebagai tempat menyimpan perlengkapan ibadah, tempat istirahat para pendeta, atau tempat duduk raja saat mengikuti upacara keagamaan. Ada juga pendapat yang menyatakan candi ini didedikasikan untuk memuja roh leluhur atau sebagai tempat persembahan.
Posisinya yang berhadapan dengan Arjuna menyimbolkan hubungan antara Sang Dewa dengan manusia, atau hubungan antara kekuasaan raja dengan nasihat para penasihatnya - hubungan yang saling membutuhkan dan saling melengkapi.
Lelah sekali hari ini, jam 17.55 kami sudah Kembali ke hotel untuk istirahat dimana kami keluar hotel tadi pagi jam 07.30...
Ikuti keseruan kami esok hari di hamparan edelwes...