Video

Langkah, Tawa, dan Kabut: Dari Geugeur ke Daolong

19 Mei 2026   06:00 Diperbarui: 18 Mei 2026   19:46 105 17 8


Ada perjalanan yang menguji tenaga, ada pula yang menghangatkan jiwa. Di antara keduanya, kami menemukan satu kisah, kisah tentang dua pasang kaki yang saling menguatkan, dua hati yang saling menghibur, dan dua pendaki muda yang tiba-tiba menjadi bagian dari cerita. Semua itu terjadi di jalur hijau Sentul, dari puncak Gunung Geugeur yang berdiri di 890 mdpl, hingga Bukit Daolong yang tenang di 800 mdpl.

Langkah kami menuruni Geugeur terasa ringan. Udara pagi masih segar, dedaunan berbisik pelan dihembus angin. 

"Kita lanjut ke Daolong?" tanyaku pada istri. 

Ia menatapku sambil tersenyum, "Kalau kaki ini masih mau diajak kompromi, ayo."

Di pertengahan jalur Geugeur sebelumnya, kami bertemu dua pendaki muda dari Tangerang. Wajah mereka penuh semangat, tapi napasnya sudah mulai berpacu. Mereka memutuskan ikut kami ke Daolong. 

"Biar aman, ikut senior," kata mereka. 

Aku dan istri saling pandang, lalu tertawa, senior yang sering nyasar, tepatnya.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Tawa di Jalur

Jalan menuju Daolong tidak terlalu curam, tapi cukup membuat napas teratur menjadi barang mewah. 

Aku bercanda, "Bukit ini seperti janji manis, kelihatannya dekat, tapi bikin ngos-ngosan." 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2