Pernah nggak sih kamu bayangkan, berdiri diam di sebuah tempat yang usianya sudah ratusan tahun, sambil membayangkan apa saja yang terjadi di sana dulu?
Nah, itu persis rasanya waktu saya dan istri jalan-jalan ke Candi Singasari yang ada di Malang ini. Jauh-jauh datang ke Malang, masa cuma makan bakso saja? Kan harus ada sesi "tambah wawasan" biar kelihatan pintar sedikit, hehe.
Berangkatlah kami ke lokasi candi ini dengan semangat 45. Begitu sampai di depan gerbang, pemandangannya langsung bikin tenang. Suasana sejuk, banyak pepohonan rindang, dan yang paling penting: udaranya bersih banget, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Di sana, kami sudah menunggu seseorang yang menjadi kunci utama perjalanan kami kali ini: seorang pemandu wisata atau guide. Dan percayalah, bertemu dengan dia itu ibarat menemukan ensiklopedia berjalan yang bisa bicara!

Sambil menatap megahnya bangunan candi peninggalan Raja Kertanegara, sang guide melempar candaan, "Mbak, Mas, jangan dibayangin zaman dulu Raja Kertanegara pusing mikirin cicilan kerajaan ya, tapi mikirin intrik politik yang seru banget!" Gelak tawa pun pecah di antara saya dan istri.
Siapa sangka, di balik wajah candi yang terlihat kokoh dan anggun itu, tersimpan banyak cerita epik kerajaan masa lalu. Pak pemandu ini bukan cuma sekadar bacain papan informasi lho.
Dia jelasin sejarah Kerajaan Singasari dengan gaya bercerita yang seru, detail, dan bikin kami berdua melongo. Mulai dari kisah Ken Arok dan Ken Dedes, kejayaan kerajaan, sampai alasan kenapa bentuk arsitektur candinya dibuat seperti itu.
Bahkan detail kecil seperti pahatan batu yang punya arti khusus pun dia hafal di luar kepala. Saya sama istri cuma bisa manggut-manggut terus, sambil dalam hati bilang: "Wah, pinter banget ya orang ini!"

Ada momen lucu juga nih pas lagi dengerin penjelasan. Istri saya sempat bertanya sesuatu yang menurut saya agak sulit, eh dia malah jawabnya santai banget sampai tuntas. Giliran saya yang nanya, jawabannya malah bikin saya makin penasaran pengen tahu lebih banyak. Singkat kata, kami berdua jadi merasa seperti lagi nonton film sejarah versi nyata, tapi kita jadi pemeran utamanya.