Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Stop Komentar dengan Template Words"

3 Juni 2026   09:23 Diperbarui: 3 Juni 2026   09:23 276 2 1

Stop Komentar dengan Template Words | Opa Jappy
Stop Komentar dengan Template Words | Opa Jappy



Kematian Nalar di Kolom Komentar, Kritik terhadap Penggunaan Template Words


Dunia digital kerap dipuja sebagai puncak pencapaian peradaban manusia dengan tawaran kecepatan serta kemudahan akses informasi tanpa batas. Namun, di balik gemerlap efisiensi tersebut, tersimpan ironi memprihatinkan yaitu hilangnya kedalaman berpikir dan runtuhnya ketulusan interaksi antarmanusia.

Penyebabnya adalah penggunaan Template Words, frasa instan, klise, dan seragam seperti "Mantap", "Izin menyimak", "Sangat menginspirasi"*, atau sekadar rentetan emoji jempol, menjamur di berbagai kolom komentar platform digital. Memang praktis, cepat, dan meninggalkan artikel tanpa memahami makna pada/di/dalamnya.

Tampaknya praktis pada komunikasi sehari-hari, padahal sebetulnya pengkhianatan terhadap kemampuan kognitif diri sendiri. Karena ketika ruang publik siber dipenuhi oleh replikasi teks tanpa makna, masyarakat digital sebenarnya sedang melangkah menuju jurang kemalasan berpikir dan kemiskinan literasi akut.

Pengkhianatan Kognisi dan Kemalasan Berpikir. Menggunakan Template Words, terutama saat berkomentar, adalah cerminan  kemalasan intelektual masif. Menulis tanggapan autentik sejatinya membutuhkan proses kognitif yang tidak sederhana, seseorang harus membaca secara saksama, mencerna gagasan penulis, merumuskan pandangan pribadi, hingga akhirnya menyusun kalimat dengan presisi.

Ketika proses berpikir ini dipotong dan digantikan oleh aksi copy-paste, formula kata seragam, seseorang secara sukarela telah menumpulkan nalar kritisnya sendiri. Akibatnya, interaksi di media sosial atau platform literasi hanyalah ilusi. Ruang siber menjadi riuh oleh gema tanpa isi; teks diproduksi bukan untuk menyampaikan isi kepala atau bertukar gagasan, melainkan sekadar mengisi ruang kosong. Perbuatan seperti  itu adalah penipuan interaksi; saat pelaku komunikasi berpura-pura peduli dan menyimak, padahal menyuguhkan kekosongan makna.

Komunikasi Transaksional dan Lunturnya Nilai Kemanusiaan. Jika ditelisik, motivasi di balik penggunaan Template Words bersifat transaksional. Netizen memberi komentar bukan karena sungguh-sungguh menghargai atau memahami karya orang lain. Komentar dengan Template Words demi memburu formalitas statistik dan mengejar pasokan umpan balik timbal balik, mendongkrak algoritma, atau sekadar barter angka kunjungan. Sungguh Memalukan!

Komunikasi yang sehat seharusnya berdiri di atas landasan apresiasi jujur dan dialog bernas kini tereduksi menjadi urusan angka-angka dingin. Dalam konteks sosial lebih luas, Template Words berfungsi sebagai topeng kenyamanan untuk menyembunyikan ketidakpedulian nyata. Manusia modern terjebak dalam ekosistem digital yang sibuk bertegur sapa, namun kehilangan jiwa kemanusiaan di dalamnya.

Jadi!? Menghidupkan Kembali Orisinalitas Bahasa dan Pemikiran Merdeka. Kenyamanan dan efisiensi, karena sering menggunakan, Template Words dibayar mahal oleh kematian daya kritis sekaligus hilangnya keaslian komunikasi. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran penuh setiap individu agar melakukan perlawanan terhadap arus pendangkalan (akibat budaya copas dan Template Words).

Menghargai gagasan orang lain harus dimulai dengan pemberian perhatian utuh saat membaca. Dari sanalah lahir tanggapan segar, spesifik, dan bervariasi. Melalui pemaksaan otak memilih kosakata tepat serta personal, manusia menolak menjadi robot digital yang digerakkan oleh keseragaman frasa generik. Lewat cara inilah identitas diri sebagai pemikir merdeka dapat dipertahankan.

Menghentikan kebiasaan berkomentar dengan Template Words adalah langkah awal krusial demi menyelamatkan ruang digital dari kedangkalan pemahaman, kemiskinan kognisi, kemalasan berpikir, pameran kebodohan, dan tipu serta penipuan komunikasi.

Hanya melalui keberanian mengeksplorasi bahasa secara mandiri, jujur, dan penuh pertimbangan, dialog mencerdaskan serta bermakna pada kemajuan peradaban sosial.



Opa Jappy | Pegiat Literasi Publik



Public Service Announcement | Pro Life Indonesia
Public Service Announcement | Pro Life Indonesia