Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Titik Terendah Kemanusiaan"

2 Juni 2026   17:51 Diperbarui: 2 Juni 2026   17:51 239 1 1

Pancasila Rumah Kita | Opa Jappy 
Pancasila Rumah Kita | Opa Jappy 


Kemunduran atau degradasi nilai-nilai kemanusiaan universal di masyarakat Indonesia akibat bias informasi, polarisasi, dan pembenaran terhadap kekerasan atau peperangan.

Nilai-nilai hidup dan peri kemanusiaan dibentuk dari luar diri sejak kecil (bimbingan, warisan, pembiasaan). Manusia secara universal memiliki naluri otomatis untuk menolak penindasan dan kekerasan terhadap sesama. Kemajuan teknologi informasi (gadget) membuat peristiwa kekerasan di belahan dunia lain bisa diakses secara instan dalam ruang pribadi.

Limpahan informasi sering memunculkan reaksi yang terkotak-kotak berdasarkan SARA, ideologi, atau politik. Sehingga banyak orang membenarkan kematian korban perang dengan dalih "wajar dalam perang." Mereka mengabaikan tangisan korban dan justru menikmati narasi kekuatan militer/senjata.

Hilangnya kepekaan nurani universal itu,  menandakan bahwa kemanusiaan sebagian masyarakat sedang berada di titik terendah karena melupakan esensi paling mendasar, yaitu menghargai nyawa sesama manusia.


Menatap Cermin Retak Peri Kemanusiaan


Kemanusiaan tidak tumbuh secara mekanis. Perwujudannya merupakan akumulasi nilai-nilai hidup dan kehidupan? bimbingan, warisan budaya, serta pembiasaan sejak usia dini. Di Indonesia, fondasi itu mengakar kuat dalam sila kedua Pancasila: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Secara kodrati, hampir seratus persen umat manusia dibekali naluri universal serupa, yaitu keterenyuhan instingtif saat melihat sesama manusia ditindas, disiksa, atau dianiaya. Namun, realitas kontemporer justru memperlihatkan anomali mencemaskan, saat nilai-nilai tersebut meluntur dan menyeret masyarakat menuju titik terendah.

Ironisme itu berjalan seiring pesatnya kemajuan teknologi informasi. Melalui gawai di genggaman, konflik atau kekerasan di belahan bumi jauh dapat disaksikan secara instan di ruang pribadi. Kedekatan visual tersebut seharusnya memperluas ruang empati global.

Sayangnya, arus informasi masif itu, justru memicu reaksi terpolarisasi. Rasa kemanusiaan tidak lagi murni serta universal, melainkan tersekat oleh batasan SARA, ideologi, maupun kepentingan politik.

Gejala paling nyata dari kemunduran tesebut terlihat ketika masyarakat kehilangan sensitivitas terhadap hilangnya nyawa. Di ruang siber, jamak ditemukan komentar meremehkan jatuhnya korban jiwa akibat bom atau rudal, lewat rasionalisasi bahwa kematian merupakan hal wajar dalam peperangan. Ratapan, tangisan duka, dan penderitaan korban tenggelam oleh kebisingan narasi politik kelompok.

Sebagian orang justru lebih terpikat glorifikasi kekuatan militer dibanding keselamatan jiwa sesama. Ketika seseorang memaklumi penderitaan sesama hanya karena korban berbeda identitas, maka saat itulah nurani mengalami degradasi parah.

Fenomena itu menjadi alarm keras. Nilai peri kemanusiaan universal seharusnya melekat tanpa syarat, melampaui segala perbedaan. Apa yang tersaji di media sosial saat ini menjadi cermin retak dari ego manusia modern.

Menolak lupa pada nilai-nilai dasar adalah satu-satunya cara agar manusia tidak terus merosot ke dalam jurang ketidakpedulian. Sudah saatnya mengembalikan fungsi nurani demi mendengar ratapan korban tertindas, tanpa perlu mempertanyakan suku, agama, atau ideologi mereka.


Karena pada akhirnya, merawat kemanusiaan orang lain merupakan cara paling mendasar untuk menjaga martabat kemanusiaan.


Opa Jappy | Indonesia Hari Ini