Video Pilihan

Tersesat di Jalur yang Tak Pernah Ada: Misteri Gunung Salak yang Kami Alami Sendiri

16 Juni 2026   05:26 Diperbarui: 16 Juni 2026   05:26 111 17 6

Aneh adalah kata pertama yang menggambarkan suasana setelah kami melangkah sekitar 10-15 menit di jalur itu. Suasana hutan mendadak menjadi sangat senyap. Suara burung atau serangga yang tadinya ramai, tiba-tiba hilang.

Kami terus berjalan, tapi anehnya, kami seperti tidak maju-maju. Pohon-pohon yang kami lewati rasanya sama. Sudut-sudut jalurnya terasa serupa. Kami seperti berjalan di dalam sebuah lingkaran raksasa yang tidak ada ujungnya. Berputar-putar di tempat yang sama, menguras tenaga, dan memakan waktu berjam-jam tanpa pernah sampai ke lokasi camping.

Logika kami mulai berputar. Sebagai pendaki, kami tahu ada yang tidak beres. Ini bukan sekadar salah arah, tapi kami seperti sengaja "disasarkan".

"Koleksi: Misbah Moerad."

Kembali ke Logika, Selamat karena Mundur

Melihat hari yang mulai semakin gelap dan kabut yang turun, saya memutuskan untuk menghentikan ambisi ego kami. Dalam mendaki gunung, musuh terbesar adalah ego. Jika kami memaksakan terus maju di jalur asing itu, entah di mana kami akan bermalam-atau apakah kami bisa kembali.

Kami memutuskan untuk berbalik arah, mencari kembali titik awal di mana kami berbelok tadi. Begitu kaki kami kembali menginjak jalur utama yang biasa, suasananya langsung terasa berbeda. Beban berat di pundak seolah sirna.

Kami melanjutkan perjalanan lewat jalur lama dan legal. Alhamdulillah, Tuhan masih melindungi kami. Kami sampai di lokasi dengan selamat dan bisa mendirikan tenda serta camping menikmati indahnya malam di Gunung Salak, meskipun menyisakan pertanyaan besar: Jalur apa yang kami masuki tadi?

Bagi teman-teman Kompasianer yang suka mendaki, pesan saya cuma satu: Jangan pernah tergoda dengan "jalur baru" yang tidak resmi, sejelas apa pun jalur itu terlihat. Di gunung, tidak semua yang kasat mata itu nyata

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2