Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Pelangi Satu Warna!?"

16 Juni 2026   11:11 Diperbarui: 16 Juni 2026   11:11 220 1 1

Pelangi Indonesia | Opa Jappy
Pelangi Indonesia | Opa Jappy

Menjaga Pelangi Kebangsaan |  Merawat Eksistensi Multikultural Negeri Tercinta



Indonesia lahir dari rahim multikulturalisme dan pluralisme luhur. Di atas tanah ini, ratusan suku, sub suku, bahasa daerah, serta karakteristik sosial-budaya lama hidup berdampingan, menciptakan mosaik peradaban kaya. Keragaman Nusantara dengan ciri khas masing-masing tersebut, telah ada jauh sebelum kedatangan agama-agama pendatang; datang dan membawa latar belakang, doktrin, serta kepentingan masing-masing. Selain Keragaman tersebut, masyarakat Nusantara telah memiliki pola, sistem, struktur kehidupan, dan spiritualitas asli mapan.

Bahkan, persentuhan dengan elemen luar tidak menghasilkan penolakan destruktif, melainkan proses kompromi anggun; menghasilkan adaptasi, percampuran ajaran keyakinan (sinkretisme), serta asimilasi budaya. Proses panjang bertaraf abad ini membentuk identitas kolektif, sekaligus menjadi pengikat utama membangun Keesaan Kebangsaan.

Namun, sejarah dan sosiologi mengingatkan bahwa identitas kolektif bertindak sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, identitas menjadi perekat sosial ampuh untuk menumbuhkan solidaritas dan rasa kebersamaan. Di sisi lain, identitas menyimpan potensi laten menjadi instrumen dominasi, hegemoni, dan klaim superioritas teologis maupun kultural terhadap komunitas berbeda.

Rekam jejak pemikiran sosiologis, memberi peringatan dini sejak lama. Potensi keretakan sosial mengintai di balik bayang-bayang sejarah jika ego kelompok, atas nama mayoritas angka dan kekuatan ekonomi, dibiarkan merusak tatanan inklusif perjuangan para pendiri bangsa.

Pada konteks kekinian, kekhawatiran sosiologis tersebut bertransformasi menjadi ancaman kian nyata. Gejala intoleransi, persekusi, dan pemaksaan kehendak terhadap kelompok minoritas atau mereka berbeda jalan spiritualitas kian sering menghiasi ruang publik. Terlihat upaya sistematis dari kelompok dominan  memadamkan warna-warna lain; gerakan monokulturalisme berusaha menghapus spektrum perbedaan demi kenyamanan ego sepihak.

Dampak reduksi paksa itu tidak sederhana. Ketika keberagaman dikebiri dan diseragamkan, hantaman kerasnya langsung meruntuhkan fondasi paling mendasar hidup dan kehidupan bernegara, terutama terkikisnya esensi keadilan. Tanpa keadilan pada setiap warga negara, konsep kemanusiaan adil dan beradab hanya menjadi slogan kosong di atas kertas.

Kembalilah Menjaga Rumah Ramah Nusantara! Indonesia pada hakikatnya adalah Pelangi Kebangsaan. Kekuatan dan keindahannya terletak pada kontras dan harmoni antarwarna saling melengkapi. Kehilangan satu warna berarti merusak keutuhan seluruh formasi pelangi. Tanpa kehadiran spektrum lengkap, ruang kebangsaan akan berubah menjadi tempat gelap, dingin, dan kehilangan kehangatan manusiawi.

Menghadapi ancaman reduksi identitas kian agresif, hati nurani setiap elemen bangsa stop diam atau memilih sebagai penonton pasif. Indonesia harus dijaga agar menjadi rumah ramah, aman, dan bermartabat untuk setiap manusia, tanpa terkecuali.

Seluruh elemen bangsa, dari ujung barat hingga ujung timur, merupakan warna-warni pelangi dengan derajat moral dan kesetaraan martabat kemanusiaan. Ketiadaan atau penindasan terhadap satu warna, berdampak kehilangan keindahan eksotisme Nusantara. 

Hanya dengan konsistensi teguh untuk merawat, menghormati, dan membela setiap warna, kehancuran total eksistensi bangsa dapat dihindari.


Opa Jappy | Pro Life Indonesia


Pelangi | Opa Jappy
Pelangi | Opa Jappy