"Kalau biasanya kami hanya berlima, kali ini perjalanan terasa lebih lengkap. Untuk kali ini kami jalan bersama menantu. Rasanya berbeda. Keluarga kami bertambah satu, dan hari itu kami sepakat menjadi 'keluarga Belanda' selama beberapa jam di Lembang."
Lembang selalu punya cara unik untuk menghadirkan cerita baru. Liburan kali ini terasa sangat spesial bagi kami. Bukan hanya karena udara sejuk khas Maribaya, tetapi karena formasi lengkap keluarga kami: saya, istri tercinta, ketiga anak kami, serta satu menantu kami yang kini resmi menjadi bagian dari kebahagiaan ini. Destinasi pilihan kami kali ini adalah Rumah Belanda Lembang, sebuah tempat wisata tematik yang sukses membawa kami "terbang" ke Negeri Kincir Angin tanpa perlu paspor.
Begitu melangkah masuk, mata kami langsung dimanjakan oleh replika rumah bergaya Belanda dengan atap segitiga yang ikonik. Taman bunga yang tertata rapi dan kincir angin besar yang berdiri megah langsung mencuri perhatian anak-anak. Suasana ramah keluarga sangat terasa di sini, dengan area indoor dan outdoor yang dipisahkan jalan aspal, memberikan ruang yang cukup luas untuk kami berjalan santai bersama.

Agenda utama yang paling kami tunggu-tunggu adalah mencoba pakaian tradisional Belanda. Kami berenam kompak menuju area penyewaan kostum. Proses memilih baju menjadi momen yang penuh tawa.
Istri dan anak-anak perempuan kami tampak anggun mengenakan gaun khas Volendam lengkap dengan topi putih runcing (kaper), begitu juga dengan mantu kami, Sementara saya, anak laki-laki, memakai setelan jas hitam dengan kain merah ikonik di pinggang. Melihat menantu kami ikut heboh mencocokkan ukuran baju bersama anak-anak menjadi momen hangat yang membuat kami semakin akrab.
"Begitu semua selesai berganti pakaian, kami saling memandang lalu tertawa. Rasanya aneh juga. Wajah-wajah Jawa dan Banjar tiba-tiba berubah menjadi keluarga Volendam. Untung tidak ada yang mengajak kami bicara bahasa Belanda."
Setelah semua rapi dengan gaya ala noni dan tuan Belanda, sesi foto pun dimulai. Kami memanfaatkan studio foto khusus yang menyediakan latar belakang interior rumah Eropa kuno. Posenya beragam, mulai dari pose formal keluarga yang berwibawa, hingga pose bebas penuh canda tawa yang dipandu oleh fotografer.

"Biasanya kami bergantian menjadi fotografer keluarga. Tetapi kali ini semua masuk ke dalam frame. Tidak ada yang berdiri di belakang kamera. Dan menurut saya, justru foto-foto seperti itulah yang paling berharga."