Video Pilihan

Seharian Menjadi Keluarga Valendam di Rumah Belanda Lembang

5 Juli 2026   06:03 Diperbarui: 5 Juli 2026   06:03 147 23 6


"Kalau biasanya kami hanya berlima, kali ini perjalanan terasa lebih lengkap. Untuk kali ini kami jalan bersama menantu. Rasanya berbeda. Keluarga kami bertambah satu, dan hari itu kami sepakat menjadi 'keluarga Belanda' selama beberapa jam di Lembang."

Lembang selalu punya cara unik untuk menghadirkan cerita baru. Liburan kali ini terasa sangat spesial bagi kami. Bukan hanya karena udara sejuk khas Maribaya, tetapi karena formasi lengkap keluarga kami: saya, istri tercinta, ketiga anak kami, serta satu menantu kami yang kini resmi menjadi bagian dari kebahagiaan ini. Destinasi pilihan kami kali ini adalah Rumah Belanda Lembang, sebuah tempat wisata tematik yang sukses membawa kami "terbang" ke Negeri Kincir Angin tanpa perlu paspor.

Begitu melangkah masuk, mata kami langsung dimanjakan oleh replika rumah bergaya Belanda dengan atap segitiga yang ikonik. Taman bunga yang tertata rapi dan kincir angin besar yang berdiri megah langsung mencuri perhatian anak-anak. Suasana ramah keluarga sangat terasa di sini, dengan area indoor dan outdoor yang dipisahkan jalan aspal, memberikan ruang yang cukup luas untuk kami berjalan santai bersama.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Agenda utama yang paling kami tunggu-tunggu adalah mencoba pakaian tradisional Belanda. Kami berenam kompak menuju area penyewaan kostum. Proses memilih baju menjadi momen yang penuh tawa.

Istri dan anak-anak perempuan kami tampak anggun mengenakan gaun khas Volendam lengkap dengan topi putih runcing (kaper), begitu juga dengan mantu kami, Sementara saya, anak laki-laki, memakai setelan jas hitam dengan kain merah ikonik di pinggang. Melihat menantu kami ikut heboh mencocokkan ukuran baju bersama anak-anak menjadi momen hangat yang membuat kami semakin akrab.

"Begitu semua selesai berganti pakaian, kami saling memandang lalu tertawa. Rasanya aneh juga. Wajah-wajah Jawa dan Banjar tiba-tiba berubah menjadi keluarga Volendam. Untung tidak ada yang mengajak kami bicara bahasa Belanda."

Setelah semua rapi dengan gaya ala noni dan tuan Belanda, sesi foto pun dimulai. Kami memanfaatkan studio foto khusus yang menyediakan latar belakang interior rumah Eropa kuno. Posenya beragam, mulai dari pose formal keluarga yang berwibawa, hingga pose bebas penuh canda tawa yang dipandu oleh fotografer.

"Koleksi: Misbah Moerad"

"Biasanya kami bergantian menjadi fotografer keluarga. Tetapi kali ini semua masuk ke dalam frame. Tidak ada yang berdiri di belakang kamera. Dan menurut saya, justru foto-foto seperti itulah yang paling berharga."

Puas di dalam ruangan, kami berenam berjalan menuju area outdoor. Mengenakan bakiak go (sepatu kayu khas Belanda) di atas rumput hijau sambil berlatar belakang kincir angin memberikan sensasi liburan yang sangat autentik. Setiap sudut tempat ini benar-benar ramah kamera (instagramable).

Setelah puas berfoto dan mengembalikan kostum, rasa lelah kami bayar tuntas di restoran yang ada di dalam kawasan wisata. Kami duduk santai menikmati hidangan hangat sambil melihat-lihat kembali hasil foto di galeri ponsel. Momen sederhana seperti ini- menertawakan pose satu sama lain di tengah udara Lembang yang mulai dingin-adalah esensi utama dari liburan keluarga kami.

Rumah Belanda Lembang bukan sekadar tempat swafoto. Bagi kami berenam, tempat ini menjadi saksi bisu kebersamaan, tawa, dan cerita baru yang mempererat ikatan keluarga kami. Sebuah hari yang sempurna di tanah pasundan dengan rasa Belanda!

"Koleksi: Misbah Moerad"

"Kami memang pulang tanpa membawa oleh-oleh khas Belanda. Tetapi kami membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: foto-foto penuh tawa, cerita yang akan terus dikenang, dan keyakinan bahwa keluarga tidak selalu membutuhkan perjalanan jauh ke luar negeri untuk menciptakan kenangan. Kadang cukup beberapa jam di Lembang, mengenakan pakaian tradisional Belanda, lalu pulang dengan hati yang penuh kebahagiaan."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2