"Siapa bilang liburan seru harus ke luar negeri? Ikut petualangan seru saya dan istri waktu menjelajahi indahnya Sulawesi Utara yuk! Banyak cerita seru, dari yang bikin deg-degan sampai yang bikin kagum banget!"
Berlibur bersama pasangan selalu punya cara tersendiri untuk merekatkan kebersamaan. Saya dan istri akhirnya memutuskan untuk terbang menjelajahi eksotisme Sulawesi Utara, sebuah destinasi yang memadukan keindahan alam pegunungan, warisan sejarah yang kuat, hingga keharmonisan budayanya. Berikut adalah cerita perjalanan kami yang santai, penuh tawa, dan sarat makna.

Setibanya kami di Bandara Internasional Sam Ratulangi, tujuan pertama kami adalah menuju hotel untuk beristirahat sejenak melepas lelah. Jujur saja, saat malam tiba, sempat ada rasa cemas dan takut-takut ketika kami ingin mencari makan malam, mengingat kami khawatir kesulitan menemukan makanan yang halal. Namun, kecemasan kami sekadar prasangka! Setelah berkeliling dan bertanya, ternyata sangat banyak pilihan makanan halal di sini, membuat perut kenyang dan hati tenang.
Keesokan paginya, saya dan istri meluncur ke kawasan Bantenan, Minahasa. Di sini, kami menyempatkan diri membeli beberapa pakaian khas setempat untuk oleh-oleh dan kenang-kenangan. Puas berbelanja, perjalanan kami berlanjut menuju Danau Linow di Tomohon.

Danau ini merupakan danau vulkanik eksotis yang diperkirakan terbentuk akibat letusan gunung purba ratusan ribu tahun yang lalu. Daya tarik utamanya adalah air danau yang bisa berubah-ubah warna-mulai dari hijau, biru, hingga kuning kecoklatan-tergantung pada pantulan sinar matahari dan kandungan belerangnya. Sembari bersantai dan menikmati camilan khas daerah setempat, kami pun asyik mengabadikan momen dengan berfoto ria dan membuat beberapa video. Namun, kami tidak berlama-lama di tepiannya, sebab aroma belerang yang menyengat mulai tercium pekat terbawa angin.

Memasuki hari kedua, petualangan kami menjadi lebih menantang karena kami memutuskan untuk mendaki Gunung Mahawu. Berdiri gagah di ketinggian 1.311 mdpl, gunung ini merupakan salah satu gunung berapi kerucut (stratovolcano). Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Mahawu pernah memuntahkan material letusan berupa abu vulkanik di tahun 1789, dan letupan kecil terakhirnya terjadi pada tahun 1999. Meski begitu, pendakian menuju puncaknya tergolong ramah untuk pemula karena sudah dilengkapi dengan jalur tangga beton yang nyaman. Setibanya di bibir kawah, kami sempat bertegur sapa dengan sepasang suami istri turis asal Belanda yang juga sedang menikmati panorama kawah dengan airnya yang berwarna hijau eksotis.
Puas menikmati sejuknya udara pegunungan, kami melanjutkan perjalanan sejarah yang sangat menyentuh hati. Kami mampir ke Makam Tuanku Imam Bonjol di Desa Lotta, Minahasa. Di lokasi makam beratap gonjong bergaya Minangkabau ini, kami berdoa sejenak untuk mengenang jasa pahlawan nasional tersebut. Kami juga melihat langsung sebuah batu datar yang diyakini sebagai sajadah atau alas yang beliau gunakan untuk menunaikan ibadah salat selama masa pengasingan. Sungguh sebuah pengalaman spiritual yang luar biasa.

Berikutnya, kami singgah ke Pagoda Ekayana yang terletak di kompleks Vihara Buddhayana Tomohon. Bangunannya sangat megah dan menjadi simbol indahnya toleransi serta keberagaman di kota bunga ini. Kami mengelilingi area pagoda sambil mengambil banyak foto dan video berlatar belakang arsitektur oriental yang menawan.
Perut yang mulai keroncongan membawa kami ke "Puncak Rurukan". Di lokasi bersuhu sejuk ini, kami menikmati makan siang lezat sambil menikmati pemandangan alam dari ketinggian. Agar momen liburan semakin seru dan tak terlupakan, kami juga menjajal berfoto mengenakan pakaian adat khas setempat, yakni kostum pakaian perang!

Sebagai penutup petualangan hari itu sebelum kembali ke bandara, kami menyempatkan diri mampir untuk berfoto dengan latar belakang Jembatan Ir. Soekarno yang ikonik sebagai titik akhir penyegaran mata. Kami juga menyempatkan diri berkeliling area kawasan Universitas Sam Ratulangi untuk melihat sekilas denyut kehidupan kampus di Manado.
Perjalanan ini benar-benar membuka mata kami. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menikmati keragaman budayanya, mencicipi kuliner yang lezat, serta merasakan toleransi antarumat beragama yang begitu damai di Sulawesi Utara, membuat kami semakin menyadari betapa luar biasa indahnya Indonesia kita tercinta.