Video Pilihan

Kabut Misterius Situ Gunung: Romantisme Berubah Was-Was di Atas Perahu

17 Juli 2026   05:37 Diperbarui: 17 Juli 2026   05:37 205 34 16


Minggu lalu baru saja menguji nyali di jembatan gantung, eh, minggu berikutnya kaki ini sudah gatal ingin kembali lagi ke Situ Gunung. Ada dua alasan kuat yang bikin kami gagal move on. Pertama, urusan perut! Pekan lalu kami kesiangan dan kehabisan menu kuliner incaran di sekitar lokasi. Alasan kedua yang tidak kalah penting: nostalgia. Dulu, kami sering ke danau ini membawa anak-anak untuk naik perahu. Kali ini, mumpung anak-anak tidak ikut, kami ingin menikmati momen berdua saja-eh, bertiga deng, tepatnya bersama bapak pemilik perahu yang mendayung di belakang.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Kawasan Situ Gunung ini memang sudah seperti halaman belakang rumah sendiri bagi kami. Jaraknya yang tidak terlalu jauh membuat kami sering bolak-balik ke sini, baik mengendarai mobil maupun naik motor Supra X legendaris kami. Begitu tiba di tepi danau, tanpa buang waktu kami langsung memesan satu perahu. Langit saat itu sebenarnya masih terlihat normal khas pegunungan, tidak ada tanda-tanda cuaca ekstrem. Kami pun naik dengan penuh suka cita, siap mengelilingi danau yang tenang dan asri ini.

Baru sekitar lima menit perahu kayu ini bergerak membelah air, tiba-tiba suasana berubah drastis. Kabut tebal turun dari puncak gunung dengan sangat cepat. Hawa sejuk yang tadinya menyegarkan langsung berubah menjadi dingin yang menusuk tulang. Di tengah danau yang luas itu, sunyi mulai terasa. Kami berpapasan dengan satu-satunya perahu lain yang berisi tiga penumpang yang buru-buru ingin merapat ke tepi. Sementara itu, kami justru terus melaju ke arah tengah dengan niat awal tetap mengelilingi seluruh area danau.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Saat perahu sampai di tengah danau, kabut semakin turun rendah. Jarak pandang sebenarnya masih relatif aman untuk ukuran petualang amatir seperti kami. Seperti biasa, istri saya langsung beraksi menjadi host untuk kanal YouTube keluarga kami. Dengan lihai dan penuh percaya diri, dia mulai menjelaskan sejarah dan keindahan danau Situ Gunung ini kepada para subscriber. Sebagai pengunjung setia, materi penjelasan tentu sudah di luar kepala.

Namun, begitu istri saya mengucapkan kalimat penutup untuk video pembuka YouTube kami, suasana mendadak berubah mencekam. Kabut tebal seolah sengaja menunggu syuting selesai. Dalam hitungan detik, jarak pandang merosot tajam dari belasan meter menjadi hanya sekitar 10 meter, lalu menyusut lagi hingga tinggal 5 meter saja! Dunia di sekitar kami mendadak putih total. Bapak pendayung di belakang pun mulai memperlambat kayuhannya.

Saya dan istri langsung saling berpandangan tanpa kata. Detik itu juga, bulu kuduk agak meremang. Pikiran kami langsung melayang pada cerita-cerita misteri dan sisi angker yang kerap menyelimuti danau-danau tua di tengah hutan seperti ini. Mau sok berani lanjut ke tengah demi konten, tapi kok ya nyawa cuma satu. Antara romantis dan mistis sekarang bedanya tipis sekali!

"Koleksi: Misbah Moerad"

"Sepertinya kita kembali saja, Pak... karena jarak pandang sudah semakin pendek dan kabutnya tebal sekali," kata saya kepada bapak pemilik perahu, mencoba terdengar tenang padahal dalam hati sudah komat-kamit berdoa. Bapak perahu langsung mengangguk setuju-tampaknya beliau juga ogah mengambil risiko jadi tokoh utama di film horor sore itu.

Alhamdulillah, setelah beberapa menit mendayung dalam kebutaan arah, siluet daratan mulai terlihat. Begitu kaki menginjak pinggiran danau dengan selamat, rasanya plong sekali! Untuk menenangkan jantung yang sempat disko, kami langsung melipir ke warung terdekat. Menikmati segelas kopi hitam hangat dan sepiring gorengan panas di tepi Situ Gunung yang berkabut ternyata jauh lebih nikmat dan aman daripada nekat jadi bajak laut di tengah kepungan kabut misterius.

Petualangan kali ini memberi pelajaran berharga: alam selalu punya cara untuk mengingatkan kita agar tetap waspada, bahkan di tempat yang sudah sangat sering kita kunjungi sekalipun. Sampai jumpa di petualangan kami berikutnya, tentu dengan cerita yang tidak kalah mendebarkan!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2