Saya sempat bergurau kepada istri, "Kalau nanti disuruh ikut menari, kita pura-pura jadi penonton saja ya."
Istri hanya tersenyum. Mungkin dalam hati beliau berpikir, "Menari dua menit saja bapak sudah pegal."
Tepat ketika acara dimulai, seluruh hadirin diminta berdiri. Lagu Indonesia Raya berkumandang dengan khidmat. Ribuan orang berdiri bersama, memberikan penghormatan kepada Sang Merah Putih. Momen sederhana itu justru membuat suasana terasa sangat menggetarkan. Di tengah hamparan manusia yang begitu banyak, rasa bangga menjadi bagian dari Indonesia terasa begitu nyata.
Tak lama kemudian, pertunjukan utama dimulai.
Sejauh mata memandang, ribuan penari Gandrung memenuhi arena. Gerakan mereka serempak, anggun, penuh semangat, dan nyaris tanpa kesalahan. Warna-warni kostum berpadu indah dengan iringan musik tradisional yang menggema, menciptakan pemandangan yang benar-benar memanjakan mata.

Saya beberapa kali hanya bisa saling pandang dengan istri.
"Masya Allah..."
Kalimat itu mungkin menjadi ungkapan yang paling sering kami ucapkan sepanjang pertunjukan.
Istri saya bersama beberapa temannya berkali-kali berdecak kagum melihat kekompakan para penari. Mereka tak henti-hentinya memuji bagaimana ribuan anak muda mampu menampilkan tarian tradisional dengan penuh percaya diri dan disiplin yang luar biasa.
Jujur saja, saya membayangkan proses latihannya pasti tidak mudah. Mengatur ribuan penari agar bergerak serempak tentu membutuhkan kerja keras, kesabaran, dan dedikasi dari banyak pihak. Hasilnya benar-benar luar biasa.