"Saya pernah menyaksikan ombak Pantai Selatan setinggi langit, mendaki gunung hingga matahari terbit, bahkan menjelajah gua-gua yang sunyi. Namun sore itu di Banyuwangi, ribuan penari berhasil membuat saya lupa mengangkat kamera. Saya memilih menikmati setiap detiknya dengan mata dan hati."
Setelah bangun tidur di hotel kami melakukan senam pagi sampai jam 08.00, setelah itu kami melakukan kegiatan melepas tukik, tidak banyak tukik yang kami lepaskan, hanya kisaran 100 ekor saja, setelah selesai kami ke lobby hotel untuk melakukan sarapan.
Kegiatan kami siang ini hanya menghadiri undangan untuk menyaksikan Tarian Gandrung Sewu yang dipusatkan di Pantai.

Perjalanan dari hotel menuju tempat acara tidak macet, lancar saja, tapi begitu memasuki tempat acara, kami kesulitan untuk mendapatkan parkir, untungnya kami ada fasilitas yang disiapkan oleh Pemerintah Daerah, jadi kami bisa langsung menuju tempat acara.
"Kalau ada yang bilang ribuan orang bisa menari dengan kompak, saya mungkin akan mengernyitkan dahi. Tapi setelah menyaksikan Gandrung Sewu di Banyuwangi secara langsung, saya justru mengernyitkan dahi karena bingung... bagaimana mereka bisa latihan sekompak itu?"
Perjalanan kami ke Banyuwangi kali ini terasa sangat istimewa. Saat itu pandemi Covid-19 sebenarnya sudah dinyatakan berakhir, tetapi berbagai pembatasan masih diterapkan di beberapa tempat. Meski begitu, semangat masyarakat untuk kembali berkumpul dan menikmati seni budaya mulai tumbuh lagi.

Alhamdulillah, kami mendapat undangan dari Pemerintah Daerah Banyuwangi untuk menghadiri salah satu pertunjukan budaya paling spektakuler di Indonesia, yaitu Gandrung Sewu.
Sejak memasuki area acara, suasana sudah terasa berbeda. Ribuan pengunjung mulai memenuhi lokasi dengan wajah penuh antusias. Kamera dan telepon genggam sibuk mencari sudut terbaik, sementara kami memilih menikmati suasana sambil sesekali bercanda.
Saya sempat bergurau kepada istri, "Kalau nanti disuruh ikut menari, kita pura-pura jadi penonton saja ya."
Istri hanya tersenyum. Mungkin dalam hati beliau berpikir, "Menari dua menit saja bapak sudah pegal."
Tepat ketika acara dimulai, seluruh hadirin diminta berdiri. Lagu Indonesia Raya berkumandang dengan khidmat. Ribuan orang berdiri bersama, memberikan penghormatan kepada Sang Merah Putih. Momen sederhana itu justru membuat suasana terasa sangat menggetarkan. Di tengah hamparan manusia yang begitu banyak, rasa bangga menjadi bagian dari Indonesia terasa begitu nyata.
Tak lama kemudian, pertunjukan utama dimulai.
Sejauh mata memandang, ribuan penari Gandrung memenuhi arena. Gerakan mereka serempak, anggun, penuh semangat, dan nyaris tanpa kesalahan. Warna-warni kostum berpadu indah dengan iringan musik tradisional yang menggema, menciptakan pemandangan yang benar-benar memanjakan mata.

Saya beberapa kali hanya bisa saling pandang dengan istri.
"Masya Allah..."
Kalimat itu mungkin menjadi ungkapan yang paling sering kami ucapkan sepanjang pertunjukan.
Istri saya bersama beberapa temannya berkali-kali berdecak kagum melihat kekompakan para penari. Mereka tak henti-hentinya memuji bagaimana ribuan anak muda mampu menampilkan tarian tradisional dengan penuh percaya diri dan disiplin yang luar biasa.
Jujur saja, saya membayangkan proses latihannya pasti tidak mudah. Mengatur ribuan penari agar bergerak serempak tentu membutuhkan kerja keras, kesabaran, dan dedikasi dari banyak pihak. Hasilnya benar-benar luar biasa.
Acara ini bukan sekadar pertunjukan tari. Gandrung Sewu menjadi bukti bahwa budaya Indonesia tetap hidup, terus dijaga, dan mampu memikat siapa saja yang menyaksikannya. Banyuwangi berhasil mengemas tradisi menjadi sebuah tontonan kelas dunia tanpa kehilangan nilai-nilai budayanya.

Kami pulang dengan hati yang penuh rasa syukur. Undangan ini menjadi pengalaman yang akan selalu kami kenang. Rasanya sulit menggambarkan kemegahan Gandrung Sewu hanya lewat foto atau video. Ada suasana, semangat, dan energi yang hanya bisa benar-benar dirasakan ketika menyaksikannya secara langsung.
Kalau suatu hari nanti ada kesempatan untuk kembali ke Banyuwangi saat Gandrung Sewu digelar lagi, saya rasa kami tidak akan berpikir dua kali.
Dan kali ini, saya akan berlatih sedikit menari dulu. Bukan untuk ikut tampil bersama ribuan penari, tetapi setidaknya supaya kalau istri mengajak berfoto dengan gaya penari Gandrung, saya tidak terlihat seperti sedang mencari sinyal.