Selamat Pagi Kompasianer...
Kalau mendengar nama Curug Cigamea, mungkin sebagian orang langsung membayangkan air terjun yang tinggi dengan airnya yang jernih. Memang benar, tapi ternyata Curug Cigamea tidak hanya memiliki satu air terjun, melainkan dua air terjun yang mempunyai karakter berbeda. Nah... ini yang membuat kami, saya dan istri, betah berlama-lama menikmati suasana di sana.
Perjalanan menuju Curug Cigamea memang cukup menyenangkan. Udara pegunungan yang masih sejuk, suara burung bersahutan, ditambah gemericik air yang mulai terdengar dari kejauhan, rasanya seperti disambut alam sebelum benar-benar tiba di lokasi.
Air terjun pertama letaknya tidak jauh dari pintu masuk. Begitu sampai, kami langsung dibuat kagum dengan tebingnya yang menjulang tinggi. Bebatuan berwarna hitam mendominasi dinding tebing sehingga memberikan kesan gagah sekaligus eksotis. Airnya mengalir deras, namun kolam di bawahnya tidak terlalu luas sehingga lebih cocok untuk menikmati keindahannya sambil berfoto daripada berenang.

Setelah puas menikmati air terjun pertama, kami melanjutkan langkah sekitar tiga puluh meter menuju air terjun utama. Nah, di sinilah Curug Cigamea benar-benar menunjukkan pesonanya.
Air terjun kedua memiliki ketinggian sekitar lima puluh meter. Debit airnya cukup besar, jatuh langsung ke kolam yang jauh lebih luas. Banyak pengunjung yang bermain air bahkan berenang di sana. Suara air yang menghantam bebatuan berpadu dengan udara dingin khas pegunungan membuat siapa pun betah berlama-lama.
Saat kami datang, pengunjung ternyata luar biasa ramai. Ada yang datang bersama keluarga, teman-teman, bahkan rombongan. Suasananya meriah, tetapi tetap terasa nyaman karena alam di sekitarnya masih begitu asri.
Di tengah keramaian itu, perhatian kami tertuju kepada seorang fotografer keliling. Dengan kamera di tangan, beliau menawarkan jasanya kepada setiap pengunjung yang lewat.
Sayangnya... dari obrolan yang sempat kami dengar, sejak pagi belum ada satu pun yang menggunakan jasanya.
Saya dan istri saling berpandangan.

"Sudah deh... kita pakai jasa beliau saja."
Bukan semata-mata ingin difoto, tetapi kami merasa mungkin hari itu beliau memang sedang menunggu rezekinya datang.
Begitu kami mengiyakan, wajahnya langsung berubah cerah.
"Nah Pak... Bu... sekarang lihat ke sana... senyum..."
Kami menurut.
"Pak... pegang tangan Ibu..."
Kami menurut lagi.
"Lihat mata Ibu, Pak... jangan lihat kamera..."
Nah... yang ini mulai agak sulit.
Belum selesai sampai di situ.
"Coba lebih dekat lagi Pak..."
Saya mulai melirik kanan kiri.
Lho... kok rasanya banyak yang memperhatikan?
Ternyata benar. Beberapa pengunjung yang sedang lewat ikut berhenti sambil tersenyum melihat kami sedang diarahkan bergaya. Rasanya seperti sedang syuting sinetron episode pendek.
Istri sudah mulai tertawa.
Saya juga ikut tertawa.
Untung fotografernya tetap profesional.
"Bagus Pak... sekali lagi... senyumnya jangan ditahan..."
Dalam hati saya berkata, "Mas... kalau senyumnya ditambah terus begini, nanti pipi saya bisa keram."
Suasana yang tadinya biasa saja berubah menjadi penuh tawa. Justru momen itulah yang membuat hasil fotonya terasa lebih alami. Senyum yang muncul bukan dibuat-buat, melainkan benar-benar lahir karena suasana yang menyenangkan.

Setelah selesai, kami menerima hasil fotonya.
Yang paling membuat hati kami hangat bukan hanya foto-fotonya, tetapi senyum tulus sang fotografer saat menerima upah dari pekerjaannya hari itu.
Entah mengapa, saya membayangkan mungkin sore nanti beliau bisa pulang membawa sedikit rezeki untuk anak dan istrinya di rumah.
Kadang kebahagiaan itu sederhana.
Bukan tentang memberi sesuatu yang besar, tetapi tentang menjadi bagian kecil dari rezeki orang lain.
Kami pun meninggalkan Curug Cigamea dengan hati yang bahagia. Alamnya indah, udara pegunungannya menenangkan, dua air terjunnya memiliki pesona yang berbeda, dan tanpa kami duga, perjalanan hari itu memberikan satu pelajaran yang sangat berharga.
Ternyata, selain menikmati ciptaan Allah yang begitu luar biasa, kita juga bisa membawa pulang kebahagiaan lain... yaitu ketika melihat seseorang tersenyum karena rezekinya datang di hari itu.
Semoga setiap langkah perjalanan bukan hanya memperkaya album foto kita, tetapi juga memperkaya rasa syukur dan kepedulian kepada sesama.
Salam wisata.