Ada kalanya, kebahagiaan itu tidak perlu direncanakan jauh-jauh. Tidak perlu menunggu ulang tahun, hari jadi pernikahan, atau momen spesial lainnya. Cukup bangun pagi, saling berpandangan, lalu sepakat berkata, "Hari ini kita nggak masak ya... makan di luar saja."
Begitulah rencana kami hari ini.
Sejak pagi, dapur di rumah benar-benar libur. Tidak ada suara wajan, tidak ada aroma bawang yang ditumis, bahkan rice cooker pun seperti ikut menikmati hari santainya.
Pagi tadi kami sudah lebih dulu menikmati semangkuk Laksa legendaris yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Hanya sekitar 2,5 kilometer, atau sekitar lima sampai tujuh menit naik motor legend kami. Sarapan yang sederhana, tetapi selalu berhasil membuat perut dan hati sama-sama bahagia.
Karena sejak awal memang sudah berniat seharian menikmati kuliner di luar, maka setelah pulang ke rumah dan beristirahat sejenak, menjelang siang kami kembali bersiap.

Tujuan berikutnya adalah Saung Eling.
Lokasinya juga tidak terlalu jauh, sekitar tujuh kilometer dari rumah kami, tepatnya ke arah belakang kompleks tempat kami tinggal. Jalan menuju ke sana juga cukup santai, melewati suasana pedesaan yang masih terasa asri. Kami berangkat sekitar pukul sebelas siang dan hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Bukan karena jalannya sepi, tetapi memang kami tidak pernah terburu-buru kalau sedang menikmati perjalanan berdua.
Bagi kami, perjalanan pendek seperti ini justru menjadi bagian dari liburan kecil.
Sesampainya di Saung Eling, suasana pedesaan langsung terasa. Bangunan saung yang didominasi kayu, pepohonan yang rindang, udara yang masih segar, membuat suasana makan siang menjadi jauh lebih nikmat.
Saung Eling bukan sekadar tempat makan khas Sunda dan Jawa Barat.
Di kawasan ini juga terdapat Saung Eling Cottages, sebuah penginapan dengan nuansa pedesaan yang sangat cocok bagi siapa saja yang ingin beristirahat dari hiruk pikuk kota. Bayangkan saja, bangun pagi dengan suara ayam berkokok, berjalan santai menyusuri pematang sawah, menikmati hamparan padi yang hijau, sambil menunggu matahari perlahan muncul dari balik perbukitan. Rasanya seperti kembali ke kampung halaman.
Tidak hanya itu, Saung Eling juga dikenal sebagai wisata Agro Heritage, sebuah konsep wisata yang memadukan pertanian, budaya, dan sejarah lokal menjadi satu paket wisata edukatif. Jadi selain mengisi perut, pengunjung juga bisa mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat pedesaan beserta nilai-nilai yang masih terjaga hingga sekarang.

Namun siang itu, tujuan kami memang sederhana.
Makan.
Tidak ada agenda berkeliling, tidak ada sesi foto yang panjang, apalagi membuat video sampai berjam-jam. Kami hanya memesan beberapa menu makan siang, ditemani segelas minuman dingin dan beberapa gorengan sebagai pelengkap.
Sesederhana itu.
Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat makan siang terasa begitu nikmat.
Selesai makan, kami tidak berlama-lama. Kami kembali menaiki motor legend kami dan pulang ke rumah untuk beristirahat.
Sore menjelang malam, ternyata "petualangan kuliner" hari ini belum selesai.
Malam harinya kami kembali keluar rumah. Kali ini tujuannya menikmati seafood di luar kompleks perumahan. Di sela-sela berbagai pilihan menu, kami juga menikmati bebek goreng yang sudah cukup lama tidak kami santap bersama.
Kalau dipikir-pikir, hari ini sebenarnya bukan hari istimewa.
Bukan ulang tahun.
Bukan hari jadi pernikahan.
Bukan pula ada perayaan tertentu.
Hanya saja, sudah cukup lama kami tidak menikmati hari seperti ini. Sehari penuh makan di luar, naik motor berdua, bercanda sepanjang perjalanan, lalu pulang dengan perut kenyang dan hati yang terasa ringan.
Entah mengapa, hari ini seperti membawa kami kembali puluhan tahun ke belakang.

Saat kami baru menikah.
Saat belum ada anak-anak yang menemani perjalanan hidup kami.
Saat setiap akhir pekan cukup diisi dengan naik motor tanpa tujuan yang pasti, mencari tempat makan sederhana, lalu pulang sambil tertawa karena uang di dompet tinggal cukup untuk membeli bensin.
Sekarang keadaan memang sudah berbeda. Rambut mulai memutih, tenaga tak sekuat dulu, dan langkah juga tak secepat masa muda.
Namun satu hal yang tidak berubah.
Kami masih menikmati kebersamaan dengan cara yang sama.
Karena pada akhirnya, kebahagiaan bukan soal makan di restoran yang mahal ataupun pergi ke tempat yang jauh. Kebahagiaan sering kali hadir dari perjalanan yang dekat, makanan yang sederhana, dan seseorang yang sejak dulu hingga sekarang masih setia duduk di samping kita.
Dan hari ini, kami kembali mengingat bahwa menikmati masa tua ternyata bisa dimulai dengan cara yang sangat sederhana... mengulang kebiasaan kecil saat kami masih muda dulu.