Video Pilihan

Keliling Rawa Pening: Tawa, Nyasar, dan Keindahan yang Tak Terlupakan

13 Agustus 2026   11:04 Diperbarui: 13 Agustus 2026   11:04 406 24 11


Pagi itu, udara masih terasa sejuk saat kami berlima bersiap memulai hari - saya, istri tercinta, dan ketiga anak kami. Tujuan pagi ini jelas: mengelilingi Rawa Pening, keindahan alam yang menjadi kebanggaan Jawa Tengah. Namun siapa sangka, perjalanan menuju ke sana sudah menyisakan tawa yang tak putus-putusnya, berkat "petunjuk" dari peta di gawai kami yang seakan sengaja mengajak kami berkelana lebih dulu.

Koleksi: Misbah Moerad
Koleksi: Misbah Moerad"

Saat Google Maps Mengajak Kami "Berkelana" Lebih Lama

Saat hendak menuju lokasi, peta penunjuk arah seakan tidak ingin langsung membawa kami ke tujuan. Jalur yang ditunjuknya terasa berbelok-belok, melewati jalan setapak yang sepi, hingga akhirnya kami sadar - kami tersesat! Mobil berhenti sejenak di pinggir jalan tanah yang sepi.

"Pah, katanya sebentar lagi sampai? Ini malah seperti masuk ke hutan ya?" canda anak sulung sambil menatap layar gawai yang tampak bingung sendiri menentukan arah.

Istri ikut tersenyum sambil menatap jalan yang kami lalui: "Mungkin saja peta ini ingin kita lihat pemandangan lain dulu, siapa tahu lebih indah."

"Benar juga," jawab saya sambil tertawa. "Dari pada kesal, anggap saja ini 'jalur wisata rahasia' yang belum banyak orang tahu. Siapa tahu pemandangan di dalamnya lebih bagus dari yang kita tuju."

Suasana yang sempat sedikit bingung pun berubah menjadi penuh canda. Kami saling melempar kelakar, menertawakan peta yang seakan sengaja menguji kesabaran kami. Akhirnya, dengan sedikit bertanya kepada warga setempat dan kembali menyesuaikan arah, kami pun menemukan jalan yang benar menuju Rawa Pening.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Sarapan Hangat Penuh Tawa

Sesampainya di dekat lokasi, perut pun mulai terasa lapar. Kami memilih berhenti sejenak untuk sarapan di tempat sederhana yang udaranya segar. Di sana, di meja kayu yang berhadapan dengan hamparan hijau, kami menikmati hidangan sambil terus bercanda.

"Siapa tadi yang bilang 'sebentar sampai lalu langsung sarapan'? Eh, malah jalan-jalan dulu keliling desa," ledek istri sambil menyendok nasi hangat.

Saya ikut tertawa: "Itu namanya jalan pintas yang ternyata berputar panjang. Tapi kan jadi makin lapar, makin nikmat sarapannya!"

Anak-anak ikut menyahut, saling melempar kelakar tentang perjalanan tadi. Suara tawa kami berpadu dengan suara angin yang berhembus lembut. Sarapan sederhana itu terasa luar biasa nikmat, bukan hanya karena makanannya yang lezat, melainkan karena kebersamaan dan canda tawa yang mengisi meja kami berlima.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Menyusuri Rawa Pening di Atas Perahu

Setelah kenyang dan hati pun gembira, kami pun naik ke atas perahu untuk mulai menyusuri luasnya Rawa Pening. Perlahan perahu melaju, dan hamparan air yang luas mulai terbentang di hadapan kami.

Wajah-wajah lelah seketika hilang berganti kekaguman. Mata memandang tak lelah ke segala arah - luas sekali rawa ini, membentang sejauh mata memandang. Namun yang paling menarik perhatian kami adalah hamparan enceng gondok yang hijau dan lebat, menutupi sebagian besar permukaan air, seolah membentuk permadani hijau yang tak bertepi.

"Wah, luas sekali ya, Mah..." ucap saya memecah keheningan, sambil menatap hamparan hijau di depan mata.

Istri tersenyum memandang ke sekeliling: "Luas sekali, dan lihatlah enceng gondoknya... hampir menutupi seluruh permukaan air. Indah sekali, seperti selimut hijau yang menutupi rawa ini."

Anak bungsu tampak takjub menunjuk ke arah samping perahu: "Banyak sekali ya enceng gondoknya, Pa! Sampai airnya tidak terlihat lagi."

"Benar, Din," jawab saya lembut. "Enceng gondok ini tumbuh subur di sini, menjadikan Rawa Pening tampak begitu khas. Namun kalau terlalu banyak pun bisa menutupi airnya, jadi tetap harus dijaga keseimbangannya ya."

Anak kedua ikut menimpali sambil memandang jauh ke tengah: "Terasa damai sekali ya duduk di sini, anginnya segar, pemandangannya luas... seakan semua lelah hilang seketika."

Kami berlima pun berbincang santai sepanjang perjalanan, saling berbagi pandangan, mengagumi kebesaran alam, dan sesekali masih menyelipkan canda tentang perjalanan nyasar tadi pagi. Perahu melaju perlahan, membelah air dan hamparan tanaman hijau, membawa kami menikmati ketenangan yang jarang kami temui di tengah hiruk-pikuk kesibukan sehari-hari.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Berfoto Ria di Gembok Cinta

Setelah puas berkeliling dan menikmati keindahan Rawa Pening dari atas air, perahu pun kembali menepi. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami berjalan menuju gembok cinta yang ada di pinggir rawa, tempat yang kerap menjadi saksi kebersamaan dan kasih sayang para pengunjung.

Di sana, kami berdiri berdampingan, berpegangan tangan, dan berfoto bersama sebagai tanda bahwa perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat - melainkan perjalanan kebersamaan keluarga. Di hadapan gembok-gembok yang melambangkan ikatan kasih itu, kami pun berjanji dalam hati untuk terus menjaga kebersamaan, saling mendukung, dan menciptakan kenangan indah bersama ke mana pun kami melangkah.

Kamera memotret senyum kami berlima, merekam kebahagiaan pagi itu.

Melanjutkan Perjalanan

Dengan hati yang gembira dan kenangan yang manis, kami pun berpamitan pada Rawa Pening. Perjalanan belum berakhir - kami masih punya tujuan selanjutnya: melanjutkan perjalanan menuju Cilacap, untuk kemudian menyeberang menjelajahi Nusakambangan.

Rawa Pening pagi itu telah memberi kami lebih dari sekadar pemandangan indah. Ia memberi kami pelajaran: bahwa tersesat pun bisa menjadi awal tawa yang menyenangkan, dan keindahan alam terasa berlipat ganda saat dinikmati bersama orang-orang yang paling kita cintai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3