Jadi kalau kami berjalan di tengahnya, badan bisa nyaris hilang ditelan ilalang.
Kalau ada orang dari kejauhan mungkin yang terlihat bukan empat orang sedang trekking, tetapi seperti rombongan ilalang yang sedang jalan-jalan.
Kami terus berjalan mengikuti jalan setapak.
Semakin masuk, suasana semakin terasa alami. Tidak ada suara kendaraan, hanya suara langkah kaki dan suara alam yang sesekali terdengar.
Sampai akhirnya kami tiba di sebuah jembatan.
Dan di sinilah mulai muncul tanda-tanda yang membuat kami sedikit waswas.
Anak Sungainya Kering!
Kami melihat ke bawah jembatan.
Ada anak sungai.
Tapi...
Airnya tidak ada.