Video Pilihan

Suaka Elang Loji: Niatnya Cari Curug, Malah Ketemu Elang dan Ilalang 2 Mete

24 Agustus 2026   05:42 Diperbarui: 24 Agustus 2026   05:42 253 10 5


"Kalau anak sungainya saja sudah kering, bagaimana dengan curugnya?"

Pertanyaan itu langsung muncul di kepala kami ketika sedang trekking menuju sebuah curug yang lokasinya tidak jauh dari kawasan Suaka Elang Loji.

Ya, kali ini saya bersama istri dan dua anak gadis kami datang ke Suaka Elang Loji bukan untuk camping. Bukan juga mau menguji ketahanan badan tidur di tenda sambil ditemani suara jangkrik.

Kami punya misi sederhana: ingin melihat curug.

Namanya juga jalan-jalan bersama keluarga. Rencananya sederhana, eksekusinya kadang penuh kejutan.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Dari Saung Menuju Suaka Elang

Perjalanan kami dimulai dari saung milik kami. Dari sana kami berjalan kaki menuju kawasan Suaka Elang.

Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh. Dengan langkah santai, sekitar 45 menit berjalan kaki, kami sudah sampai di kawasan Suaka Elang.

Empat puluh lima menit itu terdengar sebentar, tetapi kalau berjalan bersama keluarga, definisinya bisa berbeda.

Bapak mungkin merasa, "Ah, sebentar lagi sampai."

Sementara anak-anak mungkin sudah mulai berpikir, "Ini sebentar versi siapa?"

Sepanjang perjalanan kami menikmati suasana alam. Udara terasa lebih segar, suasana juga jauh dari hiruk-pikuk kendaraan.

Sampai akhirnya kami tiba di area parkiran mobil dan motor.

Dari sini, perjalanan menuju curug dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak yang masuk ke lereng gunung.

Masuk Jalan Setapak, Disambut Ilalang

Begitu masuk ke jalan setapak, suasananya mulai terasa berbeda.

Di kiri dan kanan tumbuh rumput ilalang yang cukup tinggi.

Bukan sekadar tinggi sebatas lutut.

Ilalangnya bisa mencapai sekitar 2 meter!

"Koleksi: Misbah Moerad"

Jadi kalau kami berjalan di tengahnya, badan bisa nyaris hilang ditelan ilalang.

Kalau ada orang dari kejauhan mungkin yang terlihat bukan empat orang sedang trekking, tetapi seperti rombongan ilalang yang sedang jalan-jalan.

Kami terus berjalan mengikuti jalan setapak.

Semakin masuk, suasana semakin terasa alami. Tidak ada suara kendaraan, hanya suara langkah kaki dan suara alam yang sesekali terdengar.

Sampai akhirnya kami tiba di sebuah jembatan.

Dan di sinilah mulai muncul tanda-tanda yang membuat kami sedikit waswas.

Anak Sungainya Kering!

Kami melihat ke bawah jembatan.

Ada anak sungai.

Tapi...

Airnya tidak ada.

Kering!

Kami saling pandang.

Saya langsung berpikir, "Wah... kalau anak sungainya saja kering, bagaimana dengan curug yang airnya mengalir ke sungai ini?"

Maklum, musim kemarau memang kadang membuat alam memberikan kejutan.

Padahal semangat kami dari awal adalah mencari curug.

Jangan-jangan nanti setelah trekking jauh, yang kami temukan bukan air terjun...

Tapi bekas air terjun.

Namun karena kami sudah sampai di kawasan Suaka Elang, tentu tidak ada salahnya menikmati tempat ini terlebih dahulu.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Bayar Tiket, Lalu Bertemu Para Penghuni Langit

Setelah membayar HTM, kami pun masuk dan melihat-lihat kawasan penangkaran elang.

Di sini kami bisa melihat beberapa ekor elang yang masih berada di dalam penangkaran.

Elang-elang tersebut belum semuanya dilepasliarkan ke alam.

Melihat burung pemangsa dari jarak yang cukup dekat tentu menjadi pengalaman menarik, apalagi untuk anak-anak.

Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Kamera mulai bekerja.

Jepret sana.

Jepret sini.

Foto elang.

Foto keluarga.

Foto lagi.

Kalau sudah ketemu tempat yang bagus, biasanya yang dicari bukan cuma objeknya, tapi juga angle fotonya.

Maklum, perjalanan kalau tidak ada dokumentasinya kadang terasa seperti rapat tanpa notulen. Sudah dilakukan, tapi buktinya mana?

Anak-anak kami juga terlihat menikmati suasana.

Bagi mereka, melihat elang secara langsung tentu berbeda dengan melihatnya melalui foto atau video.

Ada rasa kagum ketika melihat burung yang begitu gagah itu dari dekat.

Naik ke Area Bumi Perkemahan

Setelah puas melihat dan mengambil gambar elang, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke bagian atas.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Di sana terdapat kawasan bumi perkemahan.

Dan ternyata...

Wah, ramai juga!

Ternyata banyak pengunjung yang memang datang untuk camping.

Tenda-tenda terlihat berdiri di area perkemahan.

Suasananya cukup meriah.

Kalau kami sendiri memang tidak ada niat untuk bermalam.

Misi utama tetap sama:

Mencari curug.

Tapi melihat suasana camping di sana, rasanya jadi ingin ikut mendirikan tenda juga.

Sayangnya, kalau mendirikan tenda bersama istri dan dua anak, biasanya bukan cuma tenda yang harus dipikirkan.

Kasur.

Bantal.

Makanan.

Air.

Peralatan.

Dan entah kenapa barang bawaan keluarga kalau bepergian selalu punya kemampuan khusus untuk berkembang biak.

Jadi untuk kali ini kami cukup menjadi penonton saja.

Kami menikmati suasana bumi perkemahan, mengambil beberapa foto, lalu kembali menikmati perjalanan bersama keluarga.

Curug yang Bikin Penasaran

Sayangnya, tanda-tanda alam tadi memang cukup membuat kami ragu.

Melihat anak sungai yang kering, kami sudah bisa memperkirakan kemungkinan kondisi curug yang menjadi tujuan kami.

Tapi justru di situlah menariknya perjalanan.

Kadang tujuan utama tidak selalu menjadi bagian paling berkesan dari sebuah perjalanan.

Hari itu, meskipun kami belum tentu mendapatkan curug dengan debit air seperti yang dibayangkan, kami mendapatkan pengalaman lain.

Kami bisa berjalan kaki bersama keluarga.

Menikmati suasana alam.

Melewati jalan setapak di tengah ilalang.

Melihat elang dari dekat.

Melihat ramainya bumi perkemahan.

Dan yang paling penting, menikmati waktu bersama istri dan dua anak gadis kami.

Karena ternyata, jalan-jalan keluarga itu bukan selalu soal sampai di mana.

Kadang justru soal cerita apa yang kita bawa pulang.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Penutup

Perjalanan ke Suaka Elang Loji kali ini mengajarkan satu hal sederhana:

Jangan terlalu terpaku pada tujuan. Nikmati saja perjalanan.

Kami datang dengan niat melihat curug.

Di tengah perjalanan kami malah disambut ilalang setinggi dua meter, menemukan anak sungai yang kering, bertemu elang-elang yang sedang menjalani proses rehabilitasi, dan melihat ramainya para pencinta camping.

Curugnya mungkin belum memberikan pertunjukan air terbaik hari itu.

Tapi perjalanan bersama keluarga tetap memberikan cerita yang tidak kalah menarik.

Dan seperti biasa...

Kalau sudah jalan bersama keluarga, yang dicari bukan cuma tempat bagus.

Yang dicari adalah kenangan.

Karena beberapa tahun lagi, mungkin kami sudah lupa persis berapa jauh kami berjalan.

Mungkin juga lupa berapa banyak foto yang kami ambil.

Tapi kami akan tetap ingat:

"Dulu kita pernah trekking ke Suaka Elang Loji, niatnya cari curug... malah ketemu ilalang dua meter!"

Dan cerita seperti itulah yang biasanya paling enak untuk dikenang.

Salam jalan-jalan keluarga, Kompasianer!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11