Video Pilihan

Menjelajah Masa Lalu dan Tertawa Bersama di Museum Wayang Kota Tua Jakarta

25 Agustus 2026   05:04 Diperbarui: 25 Agustus 2026   05:04 356 18 12


Pagi yang cerah di Kota Tua Jakarta dimulai dengan sepiring pecel Madiun lezat di dalam Kantor Pos Lama, sebelum kami- saya, istri, dan dua anak perempuan-melangkah ceria menuju Museum Wayang yang ramai dipenuhi tawa anak-anak sekolah.

Sarapan Hangat Pecel Madiun di Kantor Pos

Perjalanan liburan keluarga kami mulai dengan perut lapar. Kami singgah di area Kantor Pos Kawasan Kota Tua. Di sana, aroma bumbu kacang yang harum langsung menggugah selera. Kami memesan pecel Madiun.

Pecelnya terasa sangat mantap. Sayurannya segar dan bumbu kacangnya pas di lidah.
"Wah, bumbunya pedas manis, pas buat tenaga jalan-jalan," kata istri saya sambil menyuap pecel.
Si bungsu protes kecil karena sedikit pedas, "Pecelnya kepedasan, Yah! Tapi enak, mau kerupuknya lagi!" Kami semua tertawa kecil di meja kayu tua.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Suasana Ramai Penuh Anak Sekolah

Selesai makan, kami berjalan kaki menuju Museum Wayang. Suasana di depan museum sangat hidup. Ratusan anak sekolah berseragam tampak berbaris rapi. Mereka datang dari berbagai daerah untuk studi tur.

Suara riuh tawa dan teriakan gembira anak-anak memenuhi udara. Ada yang saling berebut antre di loket tiket. Ada pula yang sibuk berfoto di halaman depan. Istri saya tersenyum melihat semangat mereka. Anak-anak saya langsung bersemangat ikut bergabung dalam kerumunan ceria itu.

Masuk ke Dunia Wayang Bersama Guide Ramah

Begitu masuk ke dalam museum, udara sejuk langsung menyambut kami. Di dalam, suara anak-anak sekolah makin terdengar ramai. Mereka berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil mengelilingi pemandu museum.

Kami beruntung bisa mendengarkan penjelasan seorang pemandu wisata yang ramah dan jenaka yang mendampingi anak-anak sekolah, jadi kami gratis mendengar penjelasannya.

Dia mulai menjelaskan sejarah wayang dengan gaya santai. "Adik-adik, tahu tidak kenapa Gatotkaca bisa terbang?" tanyanya kepada rombongan anak sekolah.
Seorang anak berteriak lantang, "Karena pakai sayap, Om!"
Dia tersenyum lebar. "Bukan pakai sayap pesawat ya, tapi karena ajian otot kawat tulang besi!"

"Koleksi: Misbah Moerad"
Anak-anak tertawa riuh. Dua anak perempuan saya ikut terkekeh mendengar penjelasan itu. Dia lalu mengajak kami melihat berbagai koleksi wayang kulit dari Jawa, Bali, hingga wayang golek dari Sunda, tak kalah juga wayang-wayang dari negara lain.

Anak saya bertanya serius pada Guidenya, "Om, kalau wayang golek ini bisa gerak sendiri tidak malam-malam?"
Guidenya menjawab santai, "Wah, kalau gerak sendiri, yang repot tukang bersih-bersihnya nanti, Neng!" Kami sekeluarga langsung tertawa lepas.

Kesan Indah di Ujung Kunjungan

Kunjungan ke Museum Wayang ini terasa sangat berkesan. Perpaduan sarapan tradisional, keramaian anak-anak sekolah yang penuh semangat, dan penjelasan guide yang lucu membuat hari itu begitu berwarna. Kami pulang dengan hati senang dan kenangan manis di Kota Tua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2