Setiap kali turun dari pendakian Gunung Salak melalui jalur Cidahu, saya dan istri memiliki warung langganan untuk sekadar melepas lelah, menyeduh kopi, dan mengisi perut. Pemilik warung ini adalah sosok yang ramah. Namun, pada satu malam yang dingin, obrolan kami bergulir ke arah yang sangat kelam. Sebuah rahasia besar yang mengubah cara pandang kami terhadap lereng Gunung Salak dibuka langsung oleh sang pemilik warung.
Sebuah kesaksian nyata tentang penyesalan terdalam seorang mantan pelaku pesugihan terlarang.
Misteri Tiga Kuda Zebra Jam 12 Malam
Awalnya, beliau menceritakan sebuah fenomena aneh yang terjadi di sebuah lapangan luas, terletak tidak jauh dari posisi warungnya. Menurut kesaksiannya, setiap jam 12 malam tepat, sering kali muncul penampakan makhluk menyerupai kuda zebra beserta kereta kencana gaib.
"Dulu awalnya cuma ada satu kuda zebra, Pak. Tapi sekarang, jumlahnya sudah bertambah jadi tiga," ujarnya dengan tatapan mata yang kosong.
Tidak ada satu pun warga lokal yang tahu dari mana asal-usul kuda tersebut, kapan mereka datang, dan ke mana mereka pergi setelah malam usai. Bagi masyarakat awam, itu mungkin hanya dianggap sebagai hantu penunggu hutan biasa. Namun, sang pemilik warung tahu betul rahasia mengerikan di balik wujud kuda zebra tersebut.
"Itu bukan sekadar jin, Pak. Itu adalah arwah-arwah manusia. Mereka adalah orang-orang yang semasa hidupnya terikat perjanjian darah dengan iblis, dan kini setelah mati, jiwa mereka diperbudak menjadi penarik kereta kencana," bisiknya lirih.
Pengakuan Mengejutkan: "Saya Pernah Menjadi Pelaku..."
Suasana di dalam warung malam itu mendadak terasa mencekam. Bulu kuduk kami merinding. Saya dan istri hanya terdiam mendengarkan. Yang membuat kami paling terkejut adalah ketika air mata pemilik warung itu mulai menetes.
Beliau menatap kami berdua lalu berkata, "Saya sendiri sebenarnya tidak tahu kenapa malam ini saya tergerak untuk menceritakan rahasia ini kepada Bapak dan Ibu. Tapi yang pasti... saya menceritakan ini karena saya adalah mantan pelakunya."
Ruangan seketika terasa senyap. Pemilik warung itu mengaku bahwa di masa lalunya, ia pernah gelap mata karena tuntutan ekonomi. Ia tergiur dengan kekayaan instan lewat jalan pesugihan di Gunung Salak. Namun, harga yang harus dibayar ternyata teramat sangat mahal. Kekayaan yang didapat harus ditebus dengan darah dagingnya sendiri.
"Saya sangat menyesal, Pak... Saya sudah menumbalkan anak kandung saya sendiri demi semua ini," ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis penyesalan yang teramat dalam.
Kini, meskipun ia sudah keluar dari lingkaran hitam tersebut dan mencoba hidup tenang dengan membuka warung, bayang-bayang dosa dan ketakutan akan menjadi bagian dari "penarik kereta" itu terus menghantuinya setiap kali malam menjelang.
(Bagaimana detail cerita mencekam dari sang pemilik warung dan suasana malam saat kami merekam obrolan berharga ini? Anda bisa mendengarkan dan melihat langsung ulasannya pada video)
Pelajaran Mahal dari Lereng Cidahu
Kami pulang dari warung itu tidak hanya membawa tubuh yang lelah setelah mendaki, tetapi juga membawa sebuah pelajaran batin yang sangat berharga. Gunung Salak memang menyimpan banyak misteri, namun misteri terbesar terkadang bukan terletak pada makhluk halusnya, melainkan pada sejauh mana manusia tega menukar imannya demi duniawi.
Kisah pemilik warung di jalur Cidahu ini menjadi peringatan keras bagi kita semua: bahwa apa pun yang didapat dari sekutu iblis, tidak akan pernah membawa kebahagiaan. Penyesalan selalu datang terlambat, dan taruhannya adalah keabadian yang menderita.
Sumber : Pemilik warung yang minta di rahasiakan siapa dia.