Kompasianer...
Perjalanan Keluarga pagi ini kami pergi ke Pacinan Glodok,..
Glodok tidak hanya tentang kuliner Tionghoa. Di Djauw Coffee, Anda bisa merasakan sensasi kopi pasir khas Turki yang melegenda di tengah atmosfer pecinan tempo dulu.
Kawasan Pecinan Glodok, Jakarta Barat, selalu identik dengan gang-gang sempit penuh sejarah, arsitektur lawas, dan tentu saja ragam kuliner legendarisnya. Namun, siapa sangka di tengah kuatnya budaya Tionghoa di tempat ini, ada sebuah sudut yang menawarkan cita rasa dari belahan dunia lain?
Pengalaman unik inilah yang saya rasakan saat melangkah masuk ke Djauw Coffee, sebuah kedai kopi yang usianya kini nyaris menyentuh satu abad. Bukan mesin espresso modern yang menyambut pandangan saya, melainkan sebuah wajan besar berisi pasir putih yang mengepulkan hawa panas.

Keajaiban Metode Pasir Panas (Turkish Coffee)
Di Djauw Coffee, kopi diseduh menggunakan teknik tradisional Timur Tengah dan Turki. Sang barista memasukkan bubuk kopi dan air ke dalam ibrik---teko tembaga kecil bergagang panjang---lalu membenamkan dan memutarnya di atas pasir yang sangat panas.
Pasir bertindak sebagai penghantar panas alami yang merata. Hanya dalam hitungan menit, kopi di dalam teko mendidih dan berbuih naik, melepaskan aroma pekat yang langsung memenuhi ruangan. Menonton proses pembuatannya saja sudah menjadi seni pertunjukan visual yang memanjakan mata sebelum lidah sempat mencicipinya.
Menyatunya Pahit Kopi dan Gurihnya Mentega
Dari beberapa menu yang ditawarkan, perhatian saya tertuju pada dua menu andalan mereka: Butter Coffee dan Kopi Pantjoran.

Jembatan Budaya dalam Secangkir Kopi
Menyesap kopi pasir yang kuat di bawah naungan bangunan berasitektur pecinan tempo dulu memberikan sensasi magis tersendiri. Djauw Coffee berhasil membuktikan bahwa rasa tidak mengenal batas geografis. Kopi khas Timur Tengah dan atmosfer Glodok ternyata bisa melebur dengan sangat harmonis.
Bagi Anda yang sedang jalan-jalan ke kawasan Kota Tua atau Glodok, kedai ini adalah destinasi yang wajib masuk ke dalam daftar kunjungan Anda. Sebuah pelarian visual dan rasa yang sulit ditemukan di kedai kopi modern biasa.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda lebih tertarik mencoba gurihnya Butter Coffee atau hangatnya Kopi Pantjoran? Tulis pendapat Anda di kolom komentar, ya!