Alfred Benediktus
Alfred Benediktus Editor

Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Jathilan Roso Tunggal: Bersatu dalam Rasa, Merdeka dalam Hati

30 Agustus 2026   20:09 Diperbarui: 30 Agustus 2026   20:20 174 4 0

Jathilan Roso Tunggal: Bersatu dalam Rasa, Merdeka dalam Hati

(para penari jathilan sedang beraksi, dokpri)
(para penari jathilan sedang beraksi, dokpri)

Di tengah hamparan tanah lapang di selatan Padukuhan Pondok, debu halus berputar mengikuti dentuman kendang yang memanggil-manggil. Siang tadi (30 Agustus 2026), penari-penari melangkah lincah, tubuh terbungkus pakaian tari dengan membawa anyaman bambu berbentuk kuda, bergerak dalam irama yang menyatu seakan satu jiwa dalam banyak raga.

Inilah Jathilan Roso Tunggal, kelompok seni rakyat yang selalu hadir menghibur warga, yang kini digelar kembali untuk merayakan kemerdekaan Indonesia yang baru saja lewat pada 17 Agustus. Bagi siapa pun yang hadir, ini bukan sekadar tontonan riuh. Di balik gerak dan dentang, tersimpan filosofi Jawa yang mendalam, tentang persatuan rasa, kesederhanaan yang memuliakan, dan kemerdekaan yang sesungguhnya.


(tari jathilan oleh para pemuda kampung, dokpri)

Makna Nama: Bersatunya Segala Rasa

Kata "Roso Tunggal" bukan sekadar nama yang indah. Dalam bahasa Jawa, Roso berarti rasa (perasaan, hati, kepekaan batin) sedangkan Tunggal berarti satu. Secara harfiah, nama ini bermakna "Bersatunya Segala Rasa": suka maupun duka, tua maupun muda, kaya maupun sederhana, semua menyatu menjadi satu rasa yang sama.

Para ahli budaya Jawa menjelaskan bahwa konsep Manunggaling Roso (bersatunya rasa) adalah inti kemanusiaan yang luhur. Manusia sejati adalah mereka yang mampu merasakan kesamaan asal dan tujuan hidup. Maka, saat kelompok ini menamai diri Roso Tunggal, mereka sedang menyampaikan pesan: seni ini bukan milik perorangan, bukan milik golongan, melainkan milik semua warga yang bersatu dalam rasa syukur dan sukacita.

Filosofi ini sejalan dengan semboyan keraton Yogyakarta Dwi Naga Roso Tunggal, yang menyimbolkan bahwa meskipun beragam, kita tetap satu kesatuan, gotong royong, saling menguatkan, bukan saling memisahkan. Di tanah lapang Selatan Kampung Padukuhan Pondok hari ini, semboyan itu hidup kembali: tidak ada sekat, tidak ada jarak, hanya hati yang bersatu.

Jathilan Roso Tunggal

Filosofi Kuda Anyaman: Kekuatan yang Tak Harus Mahal

Kuda yang ditunggangi para penari bukanlah kuda berbulu mahal, melainkan kuda dari anyaman bambu dan ijuk sederhana. Di sinilah letak kebijaksanaan Jawa yang paling menyentuh hati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3