Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah
Kemerdekaan tanpa kearifan akan menjauhkan kita dari kebenaran. Maka dalam Jathilan, kebebasan gerak dan kesucian batin berjalan beriringan.
Jathilan Roso Tunggal tidak lahir dari satu orang. Ia lahir dari kebersamaan, dari para penari yang berlatih bersama, pengrawit yang memainkan alat musik dengan selaras, warga yang menyumbang tenaga dan pikiran tanpa pamrih, hingga penonton yang hadir dengan sukacita.
Peneliti menyebutkan bahwa secara sosial, Jathilan berfungsi sebagai perekat hubungan antarwarga melalui partisipasi kolektif.
Tidak ada tiket mahal (cukup bayar parkir juga jajan sekitar panggung), tidak ada panggung terpisah, semua berkumpul di tanah yang sama, menikmati sukacita yang sama. Inilah wajah gotong royong yang paling murni: semua bergerak dalam irama yang sama, saling mengisi, saling menguatkan.
Dalam konteks peringatan kemerdekaan, maknanya menjadi sangat jelas: kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah pemberian satu pihak kepada pihak lain. Ia adalah buah persatuan seluruh rakyat, persis seperti Jathilan yang indah karena semua bergerak menyatu.
Kemerdekaan bukan milik seorang pemimpin, bukan milik satu golongan, ia milik rakyat yang bersatu dalam rasa. Dan Roso Tunggal hadir untuk terus mengingatkan hal itu: selama rasa kita masih satu, kemerdekaan akan tetap terjaga.
Saat matahari mulai condong ke barat dan irama kendang perlahan mereda, satu hal tetap tertinggal di hati setiap warga Padukuhan Pondok dan sekitarnya. Jathilan Roso Tunggal bukan sekadar tarian hiburan. Ia adalah pengakuan sederhana namun agung:
Bahwa kemewahan tidak menjamin keindahan; bahwa kesederhanaan bisa memancarkan keagungan; bahwa kekuatan sejati lahir dari persatuan rasa; dan bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika hati-hati yang berbeda mampu bersatu dalam satu rasa syukur kepada Tuhan dan kasih kepada sesama.
Bagi siapa pun yang datang dari jauh, membawa budaya yang berbeda, Jathilan Roso Tunggal berkata dengan lembut namun tegas: Manusia di mana pun kita berada, bahasa apa pun yang kita ucapkan, pada dasarnya kita semua merindukan hal yang sama untuk bersatu, untuk merdeka, untuk bahagia bersama.
Dan di sinilah, di Padukuhan Pondok, di atas tanah lapang yang sederhana, warga sedang melakukannya: menari, bersatu, dan merayakan kemerdekaan sejati: Roso Tunggal, Satu Rasa.