Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Di tengah hamparan tanah lapang di selatan Padukuhan Pondok, debu halus berputar mengikuti dentuman kendang yang memanggil-manggil. Siang tadi (30 Agustus 2026), penari-penari melangkah lincah, tubuh terbungkus pakaian tari dengan membawa anyaman bambu berbentuk kuda, bergerak dalam irama yang menyatu seakan satu jiwa dalam banyak raga.
Inilah Jathilan Roso Tunggal, kelompok seni rakyat yang selalu hadir menghibur warga, yang kini digelar kembali untuk merayakan kemerdekaan Indonesia yang baru saja lewat pada 17 Agustus. Bagi siapa pun yang hadir, ini bukan sekadar tontonan riuh. Di balik gerak dan dentang, tersimpan filosofi Jawa yang mendalam, tentang persatuan rasa, kesederhanaan yang memuliakan, dan kemerdekaan yang sesungguhnya.
(tari jathilan oleh para pemuda kampung, dokpri)
Kata "Roso Tunggal" bukan sekadar nama yang indah. Dalam bahasa Jawa, Roso berarti rasa (perasaan, hati, kepekaan batin) sedangkan Tunggal berarti satu. Secara harfiah, nama ini bermakna "Bersatunya Segala Rasa": suka maupun duka, tua maupun muda, kaya maupun sederhana, semua menyatu menjadi satu rasa yang sama.
Para ahli budaya Jawa menjelaskan bahwa konsep Manunggaling Roso (bersatunya rasa) adalah inti kemanusiaan yang luhur. Manusia sejati adalah mereka yang mampu merasakan kesamaan asal dan tujuan hidup. Maka, saat kelompok ini menamai diri Roso Tunggal, mereka sedang menyampaikan pesan: seni ini bukan milik perorangan, bukan milik golongan, melainkan milik semua warga yang bersatu dalam rasa syukur dan sukacita.
Filosofi ini sejalan dengan semboyan keraton Yogyakarta Dwi Naga Roso Tunggal, yang menyimbolkan bahwa meskipun beragam, kita tetap satu kesatuan, gotong royong, saling menguatkan, bukan saling memisahkan. Di tanah lapang Selatan Kampung Padukuhan Pondok hari ini, semboyan itu hidup kembali: tidak ada sekat, tidak ada jarak, hanya hati yang bersatu.
Filosofi Kuda Anyaman: Kekuatan yang Tak Harus Mahal
Kuda yang ditunggangi para penari bukanlah kuda berbulu mahal, melainkan kuda dari anyaman bambu dan ijuk sederhana. Di sinilah letak kebijaksanaan Jawa yang paling menyentuh hati.
Menurut sejumlah narasumber dan ahli budaya, kuda anyaman melambangkan semangat juang dan keteguhan hati, sedangkan kesederhanaannya mengajarkan: kekuatan sejati tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari jiwa yang bersih dan tekad yang bulat.
Para ahli menegaskan bahwa menunggang kuda kepang berarti menjinakkan hawa nafsu, menjadikan kekuatan diri sebagai kendaraan menuju kebaikan, gagah di lahir, namun lembut dan terkendali di batin.
Kemerdekaan pun demikian, seperti kuda anyaman itu. Tidak butuh kemegahan untuk merayakannya. Cukup dengan hati yang merdeka, semangat yang teguh, dan persaudaraan yang erat, rakyat telah menunggangi kemerdekaan sejati.
Itulah sebabnya Jathilan Roso Tunggal selalu hadir: kemerdekaan adalah milik rakyat sederhana, dirayakan dengan sarana yang sederhana pula, namun penuh makna yang tak ternilai.
Pertunjukan Jathilan memiliki dua wajah yang saling melengkapi, seperti dua sisi kehidupan. Para penari bergerak sadar, teratur, ritmis melambangkan kehidupan yang teratur, akal budi yang memimpin langkah.
Namun pada babak tertentu, ada yang masuk dalam keadaan ndadi, kesurupan, seakan kesadaran fisik menepi dan memberi ruang pada kekuatan batin yang lebih tinggi.
Para ahli budaya menjelaskan bahwa ini bukan sekadar atraksi. Ini adalah pengakuan akan dualitas kehidupan: dunia kasat mata dan dunia batin, akal budi dan kekuatan gaib, terang dan gelap, semuanya harus hidup selaras, bukan saling meniadakan.
Dalam pandangan Jawa, ini disebut Rwa Bhineda: dua hal yang berbeda, namun bersatu dalam kesatuan kosmos.
Ketika penari dalam keadaan ndadi tidak merasa sakit, tidak terbakar api, itu bukan sekadar keajaiban. Itu adalah pesan filosofis: ketika batin telah menyatu dengan kekuatan Yang Agung, kesulitan hidup menjadi ringan, dan ketabahan menjadi kekebalan.
Kemerdekaan yang sejati pun bukan sekadar merdeka secara lahir dari penjajahan, melainkan merdeka secara batin dari ketakutan, dari kepicikan hati, dari perpecahan.
Dan di atas semua itu, ada sosok Pawang yang menjaga, memimpin, menata, mengembalikan ketenangan. Para sesepuh Jawa mengingatkan: kekuatan harus disertai kendali; kebebasan harus diiringi tanggung jawab.
Kemerdekaan tanpa kearifan akan menjauhkan kita dari kebenaran. Maka dalam Jathilan, kebebasan gerak dan kesucian batin berjalan beriringan.
Jathilan Roso Tunggal tidak lahir dari satu orang. Ia lahir dari kebersamaan, dari para penari yang berlatih bersama, pengrawit yang memainkan alat musik dengan selaras, warga yang menyumbang tenaga dan pikiran tanpa pamrih, hingga penonton yang hadir dengan sukacita.
Peneliti menyebutkan bahwa secara sosial, Jathilan berfungsi sebagai perekat hubungan antarwarga melalui partisipasi kolektif.
Tidak ada tiket mahal (cukup bayar parkir juga jajan sekitar panggung), tidak ada panggung terpisah, semua berkumpul di tanah yang sama, menikmati sukacita yang sama. Inilah wajah gotong royong yang paling murni: semua bergerak dalam irama yang sama, saling mengisi, saling menguatkan.
Dalam konteks peringatan kemerdekaan, maknanya menjadi sangat jelas: kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah pemberian satu pihak kepada pihak lain. Ia adalah buah persatuan seluruh rakyat, persis seperti Jathilan yang indah karena semua bergerak menyatu.
Kemerdekaan bukan milik seorang pemimpin, bukan milik satu golongan, ia milik rakyat yang bersatu dalam rasa. Dan Roso Tunggal hadir untuk terus mengingatkan hal itu: selama rasa kita masih satu, kemerdekaan akan tetap terjaga.
Saat matahari mulai condong ke barat dan irama kendang perlahan mereda, satu hal tetap tertinggal di hati setiap warga Padukuhan Pondok dan sekitarnya. Jathilan Roso Tunggal bukan sekadar tarian hiburan. Ia adalah pengakuan sederhana namun agung:
Bahwa kemewahan tidak menjamin keindahan; bahwa kesederhanaan bisa memancarkan keagungan; bahwa kekuatan sejati lahir dari persatuan rasa; dan bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika hati-hati yang berbeda mampu bersatu dalam satu rasa syukur kepada Tuhan dan kasih kepada sesama.
Bagi siapa pun yang datang dari jauh, membawa budaya yang berbeda, Jathilan Roso Tunggal berkata dengan lembut namun tegas: Manusia di mana pun kita berada, bahasa apa pun yang kita ucapkan, pada dasarnya kita semua merindukan hal yang sama untuk bersatu, untuk merdeka, untuk bahagia bersama.
Dan di sinilah, di Padukuhan Pondok, di atas tanah lapang yang sederhana, warga sedang melakukannya: menari, bersatu, dan merayakan kemerdekaan sejati: Roso Tunggal, Satu Rasa.