Alfred Benediktus
Alfred Benediktus Editor

Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Jathilan Roso Tunggal: Bersatu dalam Rasa, Merdeka dalam Hati

30 Agustus 2026   20:09 Diperbarui: 30 Agustus 2026   20:20 179 4 0

Menurut sejumlah narasumber dan ahli budaya, kuda anyaman melambangkan semangat juang dan keteguhan hati, sedangkan kesederhanaannya mengajarkan: kekuatan sejati tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari jiwa yang bersih dan tekad yang bulat.

Para ahli menegaskan bahwa menunggang kuda kepang berarti menjinakkan hawa nafsu, menjadikan kekuatan diri sebagai kendaraan menuju kebaikan, gagah di lahir, namun lembut dan terkendali di batin.

Kemerdekaan pun demikian, seperti kuda anyaman itu. Tidak butuh kemegahan untuk merayakannya. Cukup dengan hati yang merdeka, semangat yang teguh, dan persaudaraan yang erat, rakyat telah menunggangi kemerdekaan sejati. 

Itulah sebabnya Jathilan Roso Tunggal selalu hadir: kemerdekaan adalah milik rakyat sederhana, dirayakan dengan sarana yang sederhana pula, namun penuh makna yang tak ternilai.

Dua Dunia yang Menyelaraskan: Lahir dan Batin, Terang dan Gelap

Pertunjukan Jathilan memiliki dua wajah yang saling melengkapi, seperti dua sisi kehidupan. Para penari bergerak sadar, teratur, ritmis melambangkan kehidupan yang teratur, akal budi yang memimpin langkah. 

Namun pada babak tertentu, ada yang masuk dalam keadaan ndadi, kesurupan, seakan kesadaran fisik menepi dan memberi ruang pada kekuatan batin yang lebih tinggi.

Para ahli budaya menjelaskan bahwa ini bukan sekadar atraksi. Ini adalah pengakuan akan dualitas kehidupan: dunia kasat mata dan dunia batin, akal budi dan kekuatan gaib, terang dan gelap, semuanya harus hidup selaras, bukan saling meniadakan. 

Dalam pandangan Jawa, ini disebut Rwa Bhineda: dua hal yang berbeda, namun bersatu dalam kesatuan kosmos.

Ketika penari dalam keadaan ndadi tidak merasa sakit, tidak terbakar api, itu bukan sekadar keajaiban. Itu adalah pesan filosofis: ketika batin telah menyatu dengan kekuatan Yang Agung, kesulitan hidup menjadi ringan, dan ketabahan menjadi kekebalan. 

Kemerdekaan yang sejati pun bukan sekadar merdeka secara lahir dari penjajahan, melainkan merdeka secara batin dari ketakutan, dari kepicikan hati, dari perpecahan.

Dan di atas semua itu, ada sosok Pawang yang menjaga, memimpin, menata, mengembalikan ketenangan. Para sesepuh Jawa mengingatkan: kekuatan harus disertai kendali; kebebasan harus diiringi tanggung jawab. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3