Video Pilihan

Curug Cidurian, Dua Jam Jalan, Banyak Cerita

20 September 2026   05:30 Diperbarui: 20 September 2026   05:30 229 7 5


A Day in My Life

Curug Cidurian, Dua Jam Jalan, Banyak Cerita

Catatan dari Saung APA, 620 MDPL

Alhamdulillah...

Kalau umur sudah tidak muda lagi, sebenarnya jalan-jalan itu ada dua pilihan.

Pertama, mencari tempat yang parkirnya dekat dengan tujuan.

Kedua, tetap mencari tempat yang bagus, tetapi harus trekking jauh.

Entah kenapa saya dan istri sering memilih yang kedua.

Mungkin karena kami belum sadar kalau usia sudah tidak muda.

Hehehe...

Kali ini tujuan kami adalah Curug Cidurian, sebuah air terjun yang cukup tersembunyi di kawasan Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.

Curug ini berada di Kampung Cibuluh RT 02/RW 02 dan masih berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Dari informasi yang kami dapat, Curug Cidurian memiliki ketinggian sekitar 20--35 meter, airnya jernih dan deras, serta mempunyai kolam alami di bawahnya dengan kedalaman sampai sekitar dua meter.

Wah...

Kalau membaca keterangannya sih kelihatannya sederhana.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Tapi ternyata yang tidak ditulis adalah:

"Untuk sampai ke sana, siapkan kaki dan mental."

Hehehe...

Baru Parkir, Petualangan Dimulai

Setelah kendaraan kami parkir, ternyata perjalanan belum selesai.

Malah baru dimulai!

Kami masih harus berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer melewati sawah, hutan dan perbukitan.

Saya melihat istri.

Istri melihat saya.

Saya bilang,

"Mah, katanya 1,5 kilometer."

"Iya."

"Dekat dong."

Istri diam.

Mungkin dalam hati dia sedang berpikir:

"Dekat dari mana, Pa?"

Hehehe...

Kami pun mulai berjalan.

Awalnya masih semangat.

Langkah masih cepat.

Foto-foto masih rajin.

Pemandangan sedikit bagus:

"Mah, berhenti dulu."

Foto.

Jalan lagi.

Ketemu tempat bagus lagi:

"Mah, foto lagi."

Kalau begini terus, 1,5 kilometer bisa jadi 15 kilometer.

Hehehe...

Tapi memang begitulah kami.

Kami tidak pernah terlalu memaksakan perjalanan.

Kalau capek, istirahat.

Kalau haus, minum.

Kalau ketemu pemandangan bagus, berhenti.

Kalau ada yang lucu, ketawa.

Jadi perjalanan bukan sekadar mengejar tujuan.

Perjalanannya sendiri kami nikmati.

"Koleksi : Misbah Moerad"

Dua Jam yang Tidak Terasa Dua Jam

Ternyata perjalanan menuju curug membutuhkan waktu kurang lebih dua jam.

Padahal jaraknya sekitar 1,5 kilometer.

Kalau dihitung secara matematika, mungkin orang akan bertanya:

"Ini jalan kaki atau pindah rumah?"

Hehehe...

Tapi jangan salah.

Kami memang tidak buru-buru.

Ada tanjakan, kami naik pelan-pelan.

Ada turunan, kami hati-hati.

Kalau kaki mulai terasa pegal, kami berhenti.

Kadang saya bilang,

"Mah, istirahat dulu."

Istri menjawab,

"Capek?"

Saya jawab,

"Enggak... cuma kasih kesempatan kaki menikmati pemandangan."

Hehehe...

Padahal sama-sama ngos-ngosan.

Kadang kami bercanda hanya untuk mengalihkan rasa lelah.

Karena kalau sudah mulai diam, biasanya yang terdengar cuma suara napas.

Huuuuh...

Haaaah...

Huuuuh...

Haaaah...

Bukan sedang olahraga pernapasan.

Memang sudah mulai capek.

Hehehe...

Hutan Sepi, Hanya Kami Berdua

Yang membuat perjalanan kali ini terasa berbeda, hari itu bukan weekend.

Jadi suasananya benar-benar sepi.

Kami melewati persawahan, kemudian masuk ke kawasan hutan dan perbukitan.

Tidak ada kerumunan pengunjung.

Tidak ada suara anak-anak berteriak.

Tidak ada rombongan yang berjalan sambil membawa speaker.

Hanya suara alam.

Dan tentu saja suara kami berdua.

Hehehe...

"Koleksi: Misbah Moerad"

Sesekali kalau menemukan tempat yang bagus, kami berhenti.

Foto lagi.

Video lagi.

Abadikan dulu.

Namanya juga sudah jauh-jauh jalan.

Masa pulang cuma membawa cerita:

"Mah, tadi kita ke Curug Cidurian."

"Mana fotonya?"

"Nggak ada."

Waduh...

Bisa panjang urusannya.

Hehehe...

Ketemu Dua Remaja Putri

Di tengah perjalanan, kami akhirnya bertemu dua remaja putri.

Mereka baru turun dari arah curug.

Setelah ngobrol sebentar, kami tahu mereka berasal dari Jakarta.

Saya pun bertanya,

"Dari curug, Dek?"

"Iya, Pak."

"Bagus nggak curugnya?"

Jawabannya langsung:

"Asyik, Pak!"

Wah...

Mendengar kata asyik, semangat kami langsung naik lagi.

Maklum, dari tadi kaki sudah mulai mengajukan protes.

Lalu kami bertanya lagi,

"Masih jauh?"

Mereka menjawab,

"Sekitar 30 menit lagi, Pak."

Saya diam.

Istri diam.

Mungkin kami berdua sedang menghitung ulang keputusan hidup.

Hehehe...

Sudah dua jam berjalan, ternyata masih ada bonus tiga puluh menit.

Tapi informasi berikutnya justru membuat kami semangat.

Katanya tidak ada pengunjung lain di atas.

Wah!

Berarti bisa jadi nanti Curug Cidurian hanya milik kami berdua.

Bukan milik pribadi tentunya.

Jangan sampai nanti ada yang datang membawa surat tanah.

Hehehe...

Akhirnya... Curug Cidurian!

Setelah melanjutkan perjalanan, akhirnya kami mulai mendengar suara gemuruh air.

Nah...

Ini dia suara yang paling ditunggu kalau sedang trekking menuju curug.

Semakin dekat, suara air semakin jelas.

Dan akhirnya kami sampai.

Curug Cidurian!

Rasa capek selama perjalanan langsung terasa terbayar.

Air jatuh dari ketinggian sekitar 20--35 meter.

Alirannya jernih dan deras.

Di bawahnya terdapat kolam alami yang kedalamannya bisa mencapai sekitar dua meter.

Airnya benar-benar menggoda.

Kalau masih muda mungkin langsung:

"Byurrrrr!"

Tapi kalau sekarang?

Lihat airnya dulu.

Lihat kaki dulu.

Lihat umur dulu.

Hehehe...

Akhirnya kami lebih banyak menikmati suasana.

Duduk.

Melihat air.

Menghirup udara segar.

Dan tentu saja...

foto!

Foto berdua.

Foto sendiri.

Foto pemandangan.

Foto curug.

Video.

Pokoknya dokumentasi harus lengkap.

Karena perjalanan dua jam itu harus punya bukti.

Hehehe...

"Koleksi: Misbah Moerad"

Ternyata yang Indah Bukan Hanya Curug

Setelah beberapa saat berada di sana, saya kembali berpikir.

Ternyata yang membuat perjalanan ini berkesan bukan hanya Curug Cidurian.

Justru perjalanan menuju curugnya.

Dua jam berjalan bersama istri.

Kadang saling menunggu.

Kadang saling mengingatkan.

Kadang bercanda.

Kadang sama-sama diam karena kehabisan napas.

Hehehe...

Tapi itulah perjalanan kami sekarang.

Tidak perlu cepat.

Tidak perlu mengejar siapa-siapa.

Tidak perlu membuktikan apa-apa.

Kalau capek, berhenti.

Kalau kuat, lanjut.

Kalau menemukan pemandangan indah, abadikan.

Kalau ada yang lucu, tertawakan.

Dan kalau sudah sampai tujuan...

Alhamdulillah.

Mungkin ketika masih muda, kita sering berpikir bahwa kebahagiaan itu ada di tempat tujuan.

Sekarang saya justru merasa, kebahagiaan sering kali ada di sepanjang perjalanan.

Karena tujuan hanya satu titik.

Sedangkan perjalanan mempunyai begitu banyak cerita.

Dan hari itu, Curug Cidurian memberi kami satu cerita lagi.

Tentang hutan yang sepi.

Tentang jalan yang panjang.

Tentang kaki yang pegal.

Tentang dua remaja putri dari Jakarta yang memberi semangat dengan kalimat sederhana:

"Asyik, Pak!"

Dan terutama tentang kami berdua...

Yang ternyata masih mau berjalan sejauh itu.

Bukan karena ingin terlihat kuat.

Tetapi karena ingin terus menikmati hidup.

Selama Allah masih memberikan kesempatan.

Pelan-pelan saja.

Tidak usah buru-buru.

Toh kita semua akhirnya akan sampai juga.

Yang penting...

jangan sampai sepanjang perjalanan kita lupa menikmati pemandangannya.

Alhamdulillah...

Satu curug lagi.

Satu perjalanan lagi.

Satu cerita lagi.

Dan satu lagi kenangan yang suatu hari nanti mungkin akan kami ceritakan kepada anak-anak dan cucu-cucu:

"Dulu, waktu sudah tua, Kakek sama Nenek masih trekking dua jam ke Curug Cidurian lho..."

Mereka mungkin akan menjawab:

"Serius, Kek?"

Saya jawab:

"Serius! Tapi waktu itu Kakek masih kuat..."

Hehehe...

Salam sehat dari Saung APA, 620 MDPL.

Jalan boleh pelan, istirahat boleh sering, yang penting tetap bersama dan tetap menikmati perjalanan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
  17. 17
  18. 18
  19. 19
  20. 20
  21. 21