A Day in My Life
Curug Cibeureum: Ketika yang Muda Pre-Wedding, yang Tua Cari Tempat Duduk
Catatan dari Saung APA, 620 MDPL
Alhamdulillah...
Salah satu kenikmatan di masa tua adalah masih diberi kesempatan untuk jalan-jalan bersama istri.
Tidak perlu jauh-jauh sampai ke luar negeri.
Cukup cari tempat yang udaranya sejuk, pemandangannya bagus, ada air terjun, ada mushola, dan yang paling penting...
Ada makanan.
He he he...
Kali ini kami berkesempatan mengunjungi Curug Cibeureum, salah satu air terjun yang berada di kawasan kaki Gunung Gede Pangrango, tepatnya di jalur menuju pendakian Gunung Gede Pangrango melalui Cibodas.
Curug Cibeureum memiliki ketinggian sekitar 40 meter. Airnya cukup deras dan jernih, dikelilingi pepohonan hijau serta udara khas pegunungan yang membuat paru-paru seperti mendapatkan bonus.
Nama Cibeureum sendiri berasal dari kata Sunda: ci yang berarti air dan beureum yang berarti merah.
Konon, di sekitar tebing air terjun terdapat lumut berwarna kemerahan yang apabila terkena sinar matahari memberikan kesan seperti air berwarna merah.
Makanya disebut Cibeureum.

Di sekitar Curug Cibeureum juga terdapat dua curug lainnya, yaitu Curug Cidendeng dan Curug Cikundul.
Jadi jangan heran kalau kawasan ini bukan cuma soal satu air terjun.
Bagi para pencinta alam dan pendaki, tempat ini tentu punya daya tarik tersendiri.
Yang Membuat Kami Senang Bukan Cuma Curugnya
Ada satu hal yang membuat saya dan istri cukup senang ketika berada di sini.
Musholanya.
Alhamdulillah, musholanya cukup besar dan bersih.
Buat kami yang sudah tidak muda lagi, fasilitas seperti ini penting.
Karena kalau tempat wisata sudah bagus, pemandangannya indah, tapi urusan sholat susah...
rasanya ada yang kurang.
Di sini kami bisa sholat dengan nyaman.
Dan setelah sholat, tentu saja ada ritual berikutnya.
Makan!
He he he...
Kami menikmati ikan bakar dan ayam bakar.
Entah kenapa, makanan yang sebenarnya biasa saja kalau dimakan setelah jalan-jalan di daerah pegunungan rasanya menjadi luar biasa.
Ikan bakar di rumah:
"Ya ikan bakar."
Ikan bakar setelah jalan-jalan ke curug:
"Wah... nikmatnya luar biasa!"
Mungkin bukan ikannya yang berbeda.
Lapar kita yang berbeda.
He he he...

Ada yang Camping, Ada yang Pre-Wedding
Saat kami sedang menikmati suasana, ada dua kegiatan yang cukup menarik perhatian.
Yang pertama, ada satu keluarga yang sedang camping.
Melihat keluarga itu, saya jadi teringat bahwa tempat seperti ini memang cocok untuk membuat kenangan bersama keluarga.
Tidur di tenda, memasak bersama, bercanda, menikmati udara dingin.
Capek sedikit tidak masalah.
Toh nanti kalau anak-anak sudah besar, cerita tentang camping bersama keluarga justru bisa menjadi kenangan yang tidak ternilai.
Tapi ada satu pemandangan lagi yang membuat saya dan istri agak lama memperhatikan.
Ada sepasang anak muda.
Entah mereka pasangan yang baru menikah atau masih pacaran, kami tidak tahu.
Yang jelas, mereka sedang melakukan sesi foto pre-wedding.
Nah...
Di sinilah kejadian kecil yang sebenarnya tidak penting, tapi justru menjadi cerita.
Saya dan istri saling lirik.
Kemudian sama-sama tersenyum.
Tidak ada percakapan.
Tapi saya tahu kira-kira isi kepala kami sama.
Saya dalam hati berkata:
"Dulu waktu kita menikah, pre-wedding belum ada, ya?"
Mungkin istri saya juga sedang berpikir:
"Iya... zaman kita dulu foto paling ya foto pernikahan. Itu pun belum tentu albumnya tebal."
He he he...
Memang zaman sudah berubah.
Sekarang mau menikah ada pre-wedding.
Mau ulang tahun ada pre-birthday.
Mau lamaran ada foto dulu.
Mau punya anak ada maternity shoot.
Anaknya lahir foto lagi.
Anaknya ulang tahun foto lagi.
Bahkan mungkin kalau nanti sudah tua ada...
pre-retirement!
He he he...
Untungnya kami tidak mengalami semua itu.
Kalau dulu sudah ada pre-wedding, mungkin kami tidak akan mencari lokasi secantik ini.
Maklum, zaman dulu untuk foto saja yang penting tidak berkedip.
Fotografernya bilang:
"Siap ya... satu... dua... tiga..."
Jepret!
Sudah.
Kalau hasilnya bagus, syukur.
Kalau jelek?
Ya sudah.
Tidak ada retake sampai 25 kali seperti sekarang.

Yang Muda Cari Spot Foto, yang Tua Cari Spot Duduk
Melihat pasangan muda tadi, saya tiba-tiba merasa ada perbedaan yang cukup jauh antara mereka dengan kami.
Mereka sibuk mencari angle terbaik.
Saya dan istri?
Mencari tempat duduk terbaik.
Mereka:
"Coba berdiri di sana..."
Kami:
"Duduk di sini saja, adem."
Mereka:
"Sayang, lihat ke kamera..."
Kami:
"Mah, makanannya sudah datang belum?"
He he he...
Mereka sibuk mengabadikan masa muda.
Kami sibuk menikmati masa yang sudah tidak muda lagi.
Tapi sebenarnya tidak ada yang salah dengan keduanya.
Mereka sedang memulai perjalanan.
Kami sedang menikmati perjalanan yang sudah cukup panjang.
Mereka mungkin sedang membuat foto untuk mengenang awal sebuah rumah tangga.
Sedangkan kami sudah memiliki begitu banyak kenangan yang tidak perlu difoto lagi.
Karena sebagian sudah tersimpan di album.
Sebagian di HP.
Dan sebagian lagi...
tersimpan di kepala dan hati.
Kadang saya dan istri memang suka tertawa sendiri kalau melihat anak-anak muda.
Bukan menertawakan mereka.
Justru kami seperti sedang melihat diri kami sendiri puluhan tahun yang lalu.
Dulu kami juga pernah muda.
Pernah punya tenaga banyak.
Pernah jalan jauh tanpa memikirkan lutut.
Pernah naik turun gunung tanpa bertanya:
"Masih jauh nggak?"
Sekarang?
Kalau jalan sudah agak jauh, mulai ada komunikasi penting antara suami dan istri.
"Mah, istirahat dulu."
"Iya."
"Masih kuat?"
"Masih."
"Kalau papa?"
"Papa juga masih."
Padahal dua-duanya sudah mencari tempat duduk.
He he he...

Tapi mungkin inilah yang namanya perjalanan hidup.
Setiap usia punya cerita.
Yang muda punya ceritanya sendiri.
Yang tua juga punya ceritanya sendiri.
Yang penting, selama Allah masih memberikan kesehatan dan kesempatan, jangan berhenti menikmati kehidupan.
Tidak harus dengan sesuatu yang mahal.
Kadang cukup pergi bersama orang yang kita cintai.
Melihat air terjun.
Menghirup udara pegunungan.
Sholat bersama.
Makan ikan bakar.
Kemudian pulang membawa cerita.
Dan yang paling penting...
masih bisa saling lirik dan tersenyum.
Karena setelah puluhan tahun menikah, ternyata kami masih bisa saling memahami tanpa harus banyak bicara.
Cukup satu lirikan...
Sudah tahu maksudnya.
He he he...
Mungkin itulah salah satu keuntungan menikah lama.
Bahasa istri sudah tidak perlu diterjemahkan lagi.
Dan akhirnya saya menyadari...
Pasangan muda tadi sedang membuat foto pre-wedding untuk mengenang awal perjalanan mereka.
Sedangkan kami?
Tidak perlu pre-wedding lagi.
Karena kami sudah punya "after-wedding" puluhan tahun.
Dan kalau Allah masih mengizinkan...
semoga perjalanan ini terus berlanjut.
Bukan hanya sampai Curug Cibeureum.
Tetapi sampai sejauh Allah menentukan perjalanan kami.
Aamiin.