Bandung, 24 September 2026 --- Di tengah keterbatasan produksi mahasiswa, sebuah film pendek berjudul "Dari Saka Kelara" mengangkat kehidupan sepasang suami-istri muda yang menikah karena hamil di luar rencana.
Film ini berkisah tentang Saka, seorang mekanik bengkel, dan Lara, istrinya yang menerima jasa setrika, yang menjalani rumah tangga penuh kekurangan di sebuah petak kontrakan kecil. Alih-alih menonjolkan drama kemiskinan, film ini memilih menyoroti hal-hal kecil dalam keseharian rutinitas menyetrika, membeli lauk, menyiapkan makan malam sebagai jalan untuk memperlihatkan bagaimana kasih sayang tetap tumbuh di tengah ruang yang serba terbatas.
Satu adegan makan malam sederhana dengan seekor ikan dan sepasang sepatu bayi menjadi titik balik cerita, sebelum sebuah kehilangan mendadak mengguncang keduanya. Namun film ini tidak berhenti pada duka itu sendiri melainkan pada pertengkaran yang menyusul, saling tuduh yang lahir dari rasa bersalah masing-masing, hingga akhirnya keduanya sadar bahwa di tengah kehilangan, yang tersisa hanyalah satu sama lain.
"Sebagai orang yang tumbuh di kelilingi dengan isu ini, tujuan saya membuat film ini adalah untuk menyampaikan kalau perayaan bisa tumbuh di ruang yang sempit sekalipun" ujar Sayid.
Dengan pendekatan sinematografi satu sisi imajiner sepanjang film, "Dari Saka Kelara" berusaha membangun kedekatan penonton dengan ruang sempit yang dihuni Saka dan Lara seolah ikut hadir di dalamnya, bukan sekadar menyaksikan dari luar.