"Kalau saya buat dua, satu buat sepupu," ujar anak lainnya.
Mendengar itu, Omjay tersenyum. Di situlah ia melihat nilai yang paling penting dari kegiatan sederhana ini: anak-anak belajar berbagi.
Selama ini mereka mungkin lebih sering berada di posisi menerima salam tempel. Namun melalui kegiatan ini, mereka belajar bahwa memberi juga membawa kebahagiaan. Bahkan, sering kali kebahagiaan memberi terasa lebih indah daripada menerima.
Kebahagiaan anak-anak semakin terasa ketika mereka saling menunjukkan hasil karya masing-masing. Ada yang tertawa melihat amplop temannya yang penuh gambar lucu. Ada pula yang saling memberi ide untuk menghias amplop agar lebih menarik.
Kegiatan sederhana ini ternyata menghadirkan pelajaran yang mendalam. Anak-anak tidak hanya belajar keterampilan membuat kerajinan, tetapi juga belajar tentang nilai kebersamaan, kreativitas, dan kepedulian.
Membuat amplop sendiri seperti ini bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan menjelang Lebaran. Selain melatih kreativitas, kegiatan ini juga membuat momen berbagi THR terasa lebih spesial karena amplop dibuat dengan tangan sendiri. Amplop buatan sendiri bahkan memberi sentuhan personal yang membuat penerima merasa lebih dihargai.
Jika dilakukan bersama anak-anak di kelas atau di rumah, biasanya mereka akan sangat antusias menghias amplopnya dengan berbagai warna dan stiker lucu. Kebahagiaan mereka terlihat ketika amplop hasil karya sendiri diberikan kepada adik, sepupu, atau teman saat Idulfitri.
Ketika hari Idulfitri tiba, amplop-amplop buatan tangan itu pun dibagikan kepada saudara dan teman. Mungkin nilainya tidak seberapa, tetapi kehangatan yang menyertainya terasa begitu besar.
Bayangkan betapa bahagianya seorang adik kecil ketika menerima amplop yang dibuat sendiri oleh kakaknya. Bukan hanya uang di dalamnya yang berharga, tetapi juga perhatian dan kasih sayang yang menyertai.
Di situlah makna Idulfitri terasa begitu indah: berbagi kebahagiaan dengan sesama.