Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Puing-puing Jiwa
Berserakan bersama Balok-balok sisa keserakahan dan kebodohan
Tak terhitung dengan pasti
Mereka belum tersentuh dan terlihat
Elang Pemangsa mendahului Insan
Menatap Sajian yang tersedia; tanpa lelah mencari
Di sisi lain, airmata kesedihan menatap lunglai
Tak berdaya, belahan diri sebagai santapan Si Pemangsa
(Opa Jappy)
Puisi "Puing-puing Jiwa" karya Opa Jappy adalah tanggapan tajam dan puitis terhadap kehancuran, yang berakar dari kegagalan moral dan keprihatinan sosial.
"Pray for Sumatera" [00:00], merupakan refleksi mendalam mengenai tragedi atau bencana di Sumatera, yang dilihat bukan hanya sebagai peristiwa alam, tetapi juga sebagai akibat dari kelalaian, keserakahan, dan kebodohan manusia.
Kehancuran Spiritual dan Material
Puisi dibuka dengan gambaran keruntuhan total: "Berserakan bersama Balok-balok sisa keserakahan dan kebodohan."
Puing-puing Jiwa (Spiritual). Mewakili trauma, keputusasaan, dan kerusakan moral yang tidak terhitung jumlahnya.
Balok-balok sisa (Material): Mewakili sisa-sisa kehancuran fisik, yang secara eksplisit dikaitkan dengan akar masalah: keserakahan dan kebodohan. Ini menunjuk kegagalan pembangunan, eksploitasi lingkungan, atau korupsi yang menyebabkan bencana.
Puing-puing "Tak terhitung dengan pasti. Mereka belum tersentuh dan terlihat," menyoroti penderitaan batin para korban sering diabaikan atau disembunyikan di balik puing-puing fisik, luput dari perhatian publik atau bantuan yang berarti.
Pengambil Keuntungan dan Korban yang Tak Berdaya
Memperkenalkan kiasan yang kuat tentang eksploitasi
Elang Pemangsa mendahului Insan, "Elang Pemangsa" (Predator Eagle) adalah metafora yang menusuk untuk pihak-pihak oportunistik—mungkin oknum, media, atau kekuatan politik—yang segera mengambil keuntungan dari krisis atau tragedi. Mereka melihat penderitaan ini sebagai "Sajian yang tersedia" yang dinikmati tanpa lelah.
Airmata kesedihan menatap lunglai. Kontras dengan predator yang aktif, air mata kesedihan (korban) hanya bisa melihat tanpa daya ("Tak berdaya").
Belahan diri sebagai santapan Si Pemangsa: Ini adalah klimaks tragedi. "Belahan diri" dapat diartikan sebagai bagian dari kemanusiaan kita, kerabat, atau bahkan harapan dan masa depan yang telah hilang. Hal ini menjadi santapan bagi mereka yang berhati dingin, menegaskan penderitaan yang tak tertolong.
"Puing-puing Jiwa" adalah elegi yang kuat sekaligus kritik yang keras. Opa Jappy tidak hanya mendeskripsikan kesedihan, tetapi juga menuntut pertanggungjawaban dengan menunjuk langsung pada "keserakahan dan kebodohan" sebagai penyebab.
Puisi ini berhasil menyampaikan rasa sakit yang terabaikan dan ketidakadilan dari tragedi, di mana yang lemah menjadi korban ganda: oleh bencana, dan kemudian oleh eksploitasi dari "Elang Pemangsa."
Puisi ini adalah seruan untuk mengenali dan menyentuh "puing-puing jiwa" yang tidak terlihat, yang jauh lebih sulit diperbaiki daripada balok-balok sisa material.
Video Terkait
Pray for Sumatera
Saluran: Opa Jappy Official
Rumi Tj Tan