
Oleh: Widodo, S.Pd.
Maklum kami ini bisa dibilang anak singkong. Berasal dari desa, tumbuh dengan aroma tanah basah, dan terbiasa melihat hijau dedaunan sebagai bagian dari kehidupan. Ketika merantau ke kota Tangerang, puji syukur masih memiliki rumah meski dengan lahan sempit di balkon lantai dua. Namun, rasa "gatal di tangan" ini muncul bila tidak melanjutkan kebiasaan menanam sayuran hijau. Pertanyaannya: apa saja yang membuat kami sekeluarga tetap bersemangat merawat tanaman sayur dan buah di ruang terbatas? Video menggambarkan Kebun Mini di Balkon, dokumentasi pribadi.
1. Bertanam Kangkung
Kangkung adalah sayuran paling ramah bagi pemula. Tanam benihnya, siram secukupnya, beri sedikit sinar matahari---dalam waktu dua sampai tiga minggu sudah bisa panen. Keuntungan lain, kangkung bisa ditanam di berbagai wadah: pot, ember bekas, kotak kayu, atau bahkan baskom plastik. Rasanya luar biasa ketika memetik kangkung hasil sendiri dan menghidangkannya sebagai tumis segar untuk keluarga.
2. Bertanam Caesim (Sawi Hijau)
Caesim lebih membutuhkan perhatian, tetapi tetap sangat cocok untuk lahan sempit. Tekstur daun yang renyah dan rasa yang segar menjadikannya favorit untuk sup, tumisan, ataupun mie ayam buatan rumah. Kuncinya ada pada tanah yang gembur dan pupuk organik dari sisa dapur. Dengan perawatan rutin, caesim bisa dipanen dalam waktu sekitar satu bulan. Anak-anak pun ikut senang karena proses perawatannya mudah dilihat dari hari ke hari.
3. Bertanam Jeruk yang Rajin Berbuah
Tanaman jeruk sering dianggap sulit dirawat, tetapi sebenarnya cocok sekali untuk ditanam di pot besar. Di balkon lantai dua, jeruk kami tumbuh dengan rajin berbuah. Aroma bunganya saja sudah cukup membuat suasana rumah lebih segar. Jeruk hasil panen sendiri kami peras, campur sedikit teh manis, dan jadi minuman keluarga yang alami tanpa pengawet. Nikmatnya luar biasa, apalagi jika tahu itu hasil kerja tangan sendiri.
Persiapan Menuju Masa Pensiun
Baca Juga : Cita-Citaku Setelah Pensiun: Menjadi Petani dan Pedagang Pupuk
Bertanam di lahan sempit bukan sekadar hobi. Bagi kami, ini adalah latihan jiwa menuju masa pensiun. Merawat tanaman mengajarkan kesabaran, memberikan ketenangan, dan melatih kedisiplinan. Saat kelak tidak lagi sibuk dengan urusan sekolah, tanaman-tanaman inilah yang menjadi teman setia, memberi warna dan rutinitas positif setiap hari. Dari bibit kecil yang tumbuh, kami belajar bahwa hidup pun bertumbuh pelan-pelan, tidak perlu tergesa.
Bertanam di lahan sempit adalah bukti bahwa kita bisa menciptakan ruang hijau di mana saja. Tidak perlu kebun luas, cukup kemauan dan ketekunan. Semoga pengalaman sederhana ini dapat menginspirasi siapa pun untuk ikut merawat ekologi lingkungan rumah, meski ruang terbatas. Setiap daun yang tumbuh adalah tanda bahwa hidup tetap memberi harapan.