Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Distorsi Intergritas"

25 Mei 2026   19:01 Diperbarui: 25 Mei 2026   19:01 237 0 0

Mengetuk Pintu | Opa Jappy
Mengetuk Pintu | Opa Jappy


Integritas dan Krisis Keteladanan


Integrity, in-teg'-ri-ti (Hebrew: tom, tummah). Tom means simplicity, soundness, completeness, upright, perfection. Tummah (plural: tummim).

The word integrity does not occur in the NT, but its equivalents may be seen in sincerity, truth, the pure heart, the single eye, etc. In the above sense of simplicity of intention, it is equivalent to being honest, sincere, genuine, and is fundamental to true character.


Secara definitif, integritas adalah mutu, sifat, dan keadaan yang menunjukkan kesatuan utuh pada diri seseorang. Kesatuan  yang membentuk potensi dan kemampuan untuk memancarkan kewibawaan serta kejujuran. Integritas selalu dihubungkan dengan figur pemimpin dan praktik kepemimpinannya, baik di bidang militer, sipil, sosial-politik, maupun organisasi.

Tanpa integritas, seorang pemimpin tidak mampu menjalankan roda kepemimpinan secara efektif. Sebaliknya, melalui integritas, seorang pemimpin dapat menata, mengatur, serta mengelola proses organisasi dengan baik dan benar. Pemimpin yang berintegritas akan didengar, mampu memberikan solusi, sekaligus mendampingi masyarakat yang dipimpinnya. Model dan makna integritas seperti itu tidak hanya berlaku bagi pemimpin formal, pemuka bangsa, atau tokoh masyarakat, tetapi juga bagi para rohaniawan dan ulama.

Sayangnya, saat ini bangsa Indonesia mengalami krisis keteladanan. Sangat sulit menemukan pemuka bangsa yang memiliki integritas tinggi terhadap kesejahteraan rakyat. Akibatnya, energi yang luar biasa besar pada rakyat, dikelola oleh orang-orang tanpa integritas menjadi kerusuhan sosial dan berbagai tindakan brutal lainnya.

Ironisnya, para pemuka bangsa memanfaatkannya demi memicu konflik dan kekerasan untuk keuntungan politik pragmatis.
Energi besar yang dimiliki rakyat seharusnya diarahkan untuk membangun kehidupan berbangsa. Potensi tersebut mesti dikelola demi persatuan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta.

Menatap Sunset
Menatap Sunset
Distorsi di Era Digital


Jika esai yang ditulis pada tahun 2011 itu dibawa pada konteks kekinian, tidak berkurang relevansinya, justru menjelma menjadi peringatan yang  mendesak. Krisis integritas yang dahulu terjadi di ruang-ruang fisik, kini telah teramplifikasi secara eksponensial di ruang digital.

Di era kecerdasan buatan dan algoritma media sosial saat ini, kepemimpinan tanpa integritas memicu kerusuhan lokal dan polarisasi bangsa yang terstruktur melalui fabrikasi informasi serta manipulasi opini publik.

Hari ini, energi besar rakyat yang disinggung pada tahun 2011 telah berpindah ke ranah digital dalam bentuk cyber-bashing, penyebaran hoaks, dan kepatuhan buta pada narasi kelompok, echo chambers. Gejala itu mempertegas terjadinya Kemiskinan Kognitif, Cognitive Poverty, akibat absennya keteladanan yang berintegritas. Para pemuka bangsa modern kerap kali menggunakan template words, frasa-frasa klise bernada populis tanpa substansi, sebagai topeng untuk menutupi ketiadaan kejujuran dan komitmen nyata terhadap kesejahteraan publik. Rakyat kembali hanya diposisikan sebagai komoditas digital dan angka statistik demi syahwat politik pragmatis.

Oleh karena itu, mengembalikan makna orisinal integritas, sebagai kesatuan utuh antara ucapan, tindakan, dan moralitas, adalah agenda kebudayaan yang mutlak. Tantangan itu bukan sekadar menemukan pemimpin yang cakap secara teknis, melainkan menuntut hadirnya figur yang memiliki keteguhan karakter menolak tunduk pada otomatisasi zaman dan distorsi kekuasaan. Mengelola energi bangsa menuju NKRI yang berdaulat memerlukan kepemimpinan berakar pada kejujuran autentik, bukan pencitraan digital artifisial.

Gagasan yang lahir satu dekade lalu tetap hidup dan tajam jika dikonstruksikan kembali melalui pendekatan Esai Digital. Ketika masyarakat mampu mengenali pola manipulasi politik fisik dan bahasa di dunia maya, maka ruang gerak para perusak integritas bangsa  semakin menyempit.

Persatuan NKRI hanya bisa dirawat jika energi kolektif rakyat dikelola oleh kejujuran yang autentik, bukan kepalsuan algoritma.


Opa Jappy | Penggagas Esai Digital