Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Gelisah"

2 Juli 2026   19:59 Diperbarui: 2 Juli 2026   19:59 129 1 1

Morbus Animi Odium | Opa Jappy
Morbus Animi Odium | Opa Jappy

Serial Indonesia Rumah Kita


"Negeri Animas Plena Odite et Animarum Detestabilis" merupakan bentuk kegelisahan mendalam (solicitudo dan ansietas) mengenai kondisi sosial-politik Negeri Tercinta, Indonesia.

Indonesia saat ini bagaikan kapal atau bahtera yang bocor. Ironisnya, kebocoran itu bukan karena badai dari luar, melainkan sengaja dirusak oleh penumpangnya. Mereka adalah elemen masyarakat, didorong oleh kepentingan sempit dan hati yang menjijikkan, rela menenggelamkan seluruh penumpang dan kapal.

Agaknya Para Pembocor tersebut tidak puas dengan membocorkan, menenggelamkan; mereka juga berupaya menghancurkan keseluruhan eksistensi Bangsa melalui ancaman terhadap Ideologi Pancasila.

Pancasila yang seharusnya menjadi "rumah bersama" bagi seluruh keberagaman bangsa, kini sedang digerus. Tembok-tembok perbedaan sengaja ditinggikan melalui penguatan sentimen SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), intoleransi, serta radikalisme Akibatnya, ruang kolaborasi dan interaksi antarwarga negara menjadi hancur.

Sehingga melalui "Negeri Animas Plena Odite et Animarum Detestabilis, konsep pemikiran filsuf Yunani Kuno dan era Pax Romana, membedah topeng jiwa-jiwa yang dipenuhi kebencian dan hal-hal menjijikkan. Menurut Hippocrates, itu adalah bentuk sakit jiwa atau penyakit mental (morbus animi odium) yang disebabkan oleh beban kebencian yang mendalam.

Dalam "Negeri Animas Plena Odite et Animarum Detestabilis" juga menunjukkan keharusan adanya "Sanus Populus Animosus," atau masyarakat atau pemimpin yang berjiwa sehat. Pemerintahan yang ideal (politeia) harus dipimpin oleh orang-orang berjiwa sehat agar mampu menghadirkan kesejahteraan, kedamaian, dan keadilan sejati. "Negeri Animas Plena Odite et Animarum Detestabilis" diakhiri dengan frasa kebenaran yang diterima secara universal bahwa,  


"Nullus infans nec homo nascitur odium secum ferens. Odium est aliquid quod docetur, traditur, et ratione instituitur."

"Tidak ada bayi atau manusia yang terlahir langsung membawa beban kebencian. Kebencian adalah sesuatu yang diajarkan, diwariskan, dan diciptakan secara sistematis."


Tidak Dilahirkan dengan Beban Kebencian | Opa Jappy
Tidak Dilahirkan dengan Beban Kebencian | Opa Jappy

Menyehatkan Jiwa Bangsa |  Mengikis Industri Kebencian di Bawah Payung Pancasila

Pancasila dirancang oleh para pendiri bangsa sebagai dokumen philosophische grondslag, fondasi filsafat, yang menjadi rumah kemajemukan manusia Indonesia. Namun, realitas kontemporer kekinian, memperlihatkan paradoks mencemaskan. Karena ruang publik Negeri Tercinta, di antara kesuburan pohon-pohon kemajuan Bangsa, Rakyat, dan Negara; tumbuh hama yang merusak serta mematikan. Hama penuh narasi kebencian, polarisasi, dan pengkotakan sosial berbasis SARA.

Hama mematikan itu tak tumbuh liar di hamparan gersang; tapi ruang-ruang terbuka, menghancurkan keindahan kebersamaan menjadi Negeri Animas Plena Odite et Animarum Detestabilis, negeri yang jiwanya terancam sakit akibat racun kebencian diproduksi secara terus-menerus. Itulah para pembocor bahtera, ironis Indonesia saat ini. Mereka memukul bahtera dengan martil dan pahat  Intoleransi serta radikalisme. Mereka lupa bahwa jika kapal tenggelam, tidak ada satu golongan pun yang selamat; semuanya menyalami kehancuran.

Semuanya itu, secara filosofis,  kebencian akut di masyarakat bukan fenomena sosial biasa, melainkan penyakit jiwa massal, dalam tradisi pemikiran klasik disebut morbus animi odium. Dengan itu, ketika bangsa membiarkan ruang publiknya dikuasai oleh mereka yang berjiwa sakit, maka tujuan bernegara agar mencapai kedamaian dan keadilan sosial, mustahil terwujud.

Oleh karena itu, mengadopsi prinsip sanus populus animosus, Anda dan Saya harus memastikan bahwa kepemimpinan serta ruang publik dikelola oleh manusia-manusia berjiwa sehat, jernih, adalah urgensi yang tak bisa ditawar.

Juga, ingatlah, tantangan terbesar Negeri Tercinta adalah tidak menyadal bahwa kebencian bukansifat bawaan sejak dalam kandungan; dan tak ada manusia terlahir dengan membawa dendam sentimen perbedaan SARA. Itu adalah komoditas yang diajarkan, dirawat, diwariskan; dan dalam banyak kasus politik modern, diproduksi secara massal demi kepentingan kekuasaan jangka pendek.

Walau seperti itu (di atas), Anda dan Saya, masih bisa bersyukur pada Sang Pemilik Hidup dan Kehidupan bahwa masih sangat banyak orang penuh iman, cinta, kasih sayang, tak pernah luntur harapan serta pengharapan masa depan yang lebih baik. Dengan kekuatan harapan dan pengharapan itulah, Anda dan Saya terpanggil agar menyelamatkan bahtera Indonesia dari ancaman karam. 

Dan, secara bersama melakukan gerakan pemulihan. Sehingga sama-sama melihat Garuda Pancasila tak tergantung pada tembok tak terjangkau; tapi hadir dalam oras, narasi, dan aksi-aksi hidup dan kehidupan sehari-hari. Kehadiran tersebut menciptakan keberanian kolektif menolak narasi intoleransi, menyembuhkan morbus animi dengan edukasi yang memanusiakan, serta memastikan bahwa kapal besar bernama Indonesia tetap dipandu oleh jiwa-jiwa sehat demi keadilan seluruh rakyatnya.

Opa Jappy | Pro Life Indonesia


Melukis dengan Kata-kata | Opa Jappy
Melukis dengan Kata-kata | Opa Jappy