Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Vandalisme Literasi dan Sabotase Intelektual pada Ruang Wacana Publik. Secara historis, tindakan perusakan dipahami sebagai aksi fisik yang meninggalkan bekas kasat mata pada fasilitasi umum. Masuknya era internet melahirkan vandalisme digital dalam bentuk website defacement dan sabotase basis data. Namun, ancaman paling destruktif pada abad ke-21 terjadi saat vandalisme tersebut menyasar dimensi kognitif manusia.
Vandalisme Literasi sebagai pengingat bahwa kejahatan intelektual tidak hadir dalam bentuk kekerasan verbal yang kasar, melainkan bentuk narasi tertata yang bertujuan merusak martabat kemanusiaan wacana. Serta melindungi ruang baca bukan sekadar menjaga perangkat keras dari peretasan, namun menjaga kejernihan akal budi dari racun kognitif.
Vandalisme Literasi lahir dari sikon dan konteks semakin melajunya kejahatan siber; umumnya kejahatan dilakukan oleh mereka yang "menguasai IT dan olah data digital;" namun juga mereka yang pintar Copas dari AI. Sehingga bisa disebut bahwa "Vandalisme Literasi" bekerja sebagai bentuk sabotase intelektual dan bagaimana masyarakat terpelajar dapat membentengi ekosistem berpikirnya.
Vandalisme Literasi tidak menghancurkan kertas atau server secara fisik; namu menyusupkan racun intelektual ke dalam format-format wacana yang tampak terhormat, seperti dokumen PDF, artikel bertema ilmiah, e-book, hingga video ulasan. Kerusakan yang dihasilkan tidak berupa sistem yang crash, melainkan degradasi standar berpikir publik.
Vandalisme Literasi, (i) memancing amarah, memicu polarisasi, dan menyebar kebencian; (ii) menyerang karakter, fisik, atau latar belakang pribadi; (iii) menggunakan narasi manipulatif dan dokumen anonim. Vandalisme Literasi dikemas secara rapi mulai menyelipkan serangan personal yang irrelevan terhadap gagasan utama, pada detik itulah karya tersebut gugur sebagai riset dan resmi menjadi aksi vandalisme, (iv) pemutaran balikan data, kemudian melakukan publikasi penuh ketidakbenaran, dan bersifat menjatuhkan orang lain dan ajakan permusuhan serta kebencian.
Ekses nyata Vandalisme Literasi adalah terciptanya limbah kognitif (cognitive waste) dalam ruang wacana publik. Sepert limbah industri meracuni pasokan air bersih, vandalisme literasi mencemari sumber pengetahuan publik. Akibatnya, pembaca mengalami kelelahan mental (information fatigue) dan kesulitan memisahkan mana kajian kritis yang objektif dan mana umpatan emosional bertopeng bahasa formal. Pada tingkat yang lebih parah, melumpuhkan rasa percaya (public trust).
Vandalisme Literasi dapat dicegah melalui kesadaran kolektif dari pembaca digital. Antara lain,
3. Penegakan Etika Intelektual: Menuntut akuntabilitas dan standar ilmiah yang lebih tinggi dari setiap karya tulis yang beredar di ruang publik.

Namun, saya yang rakyat biasa pun menjadi sasaran Vandalisme Literasi. Saya yang tak terbiasa Googling tentang diri sendiri, pada awalnya, tak tahu apa-apa; untungnya ada bantuan dari Orang-orang Baik. Ternyata ada sejumlah publikasi yang menyerang dan menunjukkan perilaku dan moral Vandalisme Literasi. Coba perhatikan.
Lucu 2, Tangkapan Layar di atas, membuktikan bahwa ada yang memberi komentar serial. Isinya, "sangat menghibur, copas, kok sepi pembaca; bahkan tulisan sampah, dll. Jika seperti itu, lebih baik dihapus. Lapor ke Admin? Tak bakalan respon.
Lucu 3, "Belajar dari Opa Jappy tentang Lukisastra dan Neologisme." Ini menarik juga, tapi tulisannya tak berubah; masih bergaya lama. Padahal, saya pernah edit dan perbaiki tulisan Mr X itu, kemudian ia publikasi di Kompasiana (mendapat Label dari Admin). Jadinya, bersyukurlah! Ada orang yang publikasi hasil karya dan tentang Saya. Saya sarankan terus menerus nulis tentang Saya. Itung-itung publikasi gratis.
Lucu 4. Biar menjadi Konsumsi Pribadi