Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Esai Digital, "Politisi Mythomania"

10 September 2026   10:34 Diperbarui: 10 September 2026   10:34 188 1 0

Membedah Mythomania|Opa Jappy
Membedah Mythomania|Opa Jappy


Manusia belajar berbohong sejak kecil; biasanya agar menghindari hukuman orang tua atau guru. Dalam ranah sosial, kebohongan dipakai menutup kesalahan kecil, menghindari amarah, meraih pujian, atau alasan kebaikan. Di panggung politik, kebohongan ditransformasikan menjadi alat taktis. Atau, janji manis dirangkai demi memikat massa dan meraih dukungan. Perilaku pemberi harapan palsu ini, jika dibiarkan, berkembang menjadi tindakan patologis destruktif.

Secara psikologis, fenomena di atas merujuk pada  mythomania, yakni gangguan saat seseorang berbohong secara patologis, kompulsi, serta terus-menerus tanpa kontrol. Pengidapnya memanfaatkan kebohongan ketika berinteraksi sosial lewat strategi tabrak lari, merangkai cerita palsu, menghilang, lalu muncul kembali membawa narasi baru. Kondisi tersebut melahirkan istilah ODGJ Elite. 

Masyarakat umumnya mengidentikkan gangguan jiwa dengan penampilan kumuh atau terlantar. Sebaliknya, pengidap mythomania justru berpenampilan sempurna: terpelajar, rapi, kaya raya, serta menduduki posisi sosial dan politik tinggi. Topeng kesempurnaan tersebut dijaga ketat lewat kebohongan berkesinambungan.

Kecenderungan politisi mengidap atau memperlihatkan mythomania akut dipicu kombinasi komorbiditas psikologis, dorongan sistemik, dan kebutuhan biologis. Misalnya,

  • Gangguan Kepribadian Komorbid (NPD, APD, BPD). Mayoritas kasus kebohongan patologis berakar pada Narcissistic Personality Disorder (NPD) dan Antisocial Personality Disorder (APD). Politisi narsistik memiliki kebutuhan ekstrem agar dikagumi, validasi, serta kekuasaan. Kebohongan dirangkai demi menciptakan citra pahlawan atau figur penyelamat. Sementara itu, impuls antisosial membuat mereka memanipulasi fakta tanpa rasa bersalah.
  • Strategi Solusi Semu dan Bujukan Publik. Dalam hubungan dengan pemilih, penduduk, serta pendukung, politisi cenderung melemparkan kebohongan patologis sebagai upaya menghadirkan solusi semu. Narasi manis diproduksi sekadar untuk menyenangkan konstituen demi menjaga elektabilitas dan mengamankan dukungan politik. Janji-janji instan tanpa kalkulasi realistis dipakai menenangkan kecemasan publik secara sementara, sekalipun berujung pada kekecewaan massal.
  • Mekanisme Pertahanan Diri dan Coping Trauma. Banyak pengidap memiliki riwayat rasa tidak aman (insecurity) atau trauma masa lalu. Dalam panggung politik kompetitif, narasi bohong dipakai sebagai coping mechanism untuk menutupi inkapabilitas diri serta menghindari penolakan publik.
  • Disfungsi Biologis dan Neurokimia Otak. Secara medis, kecenderungan mythomania akut berkaitan erat dengan ketidakseimbangan hormon kortisol dan regulasi neurotransmiter di otak. Kelainan fungsional ini mengikis kontrol impulsif, sehingga dorongan mengarang cerita palsu terjadi secara otomatis tanpa pertimbangan rasional.
  • Insentif Sistemik Kekuasaan. Panggung politik memberi panggung subur bagi perilaku manipulatif. Ketika narasi rekaan terbukti efektif meraih simpati massa atau meredam skandal, otak menerima penguatan positif. Kebohongan berulang melatih otak memvalidasi kepalsuan tersebut hingga pelaku mempercayai narasi buatannya sendiri sebagai kebenaran mutlak.

Dampak Biologis Kebohongan Patologis. Tubuh secara biologis tidak dapat membohongi realitas. Kebohongan terdeteksi pada ekspresi tidak sinkron, gestur menghindari kontak mata, gerakan gelisah, hingga perubahan ritme bicara. Beban emosional akibat menutupi kebohongan terus-menerus memicu stres biologis berbahaya. Saat kebohongan bertumpuk, sistem saraf simpatik bereaksi aktif; misalnya (i) Sistem Kardiovaskular; Detak jantung melonjak dan tekanan darah meroket; (ii) Hormon Stres: Tubuh dibanjiri hormon kortisol.

Stres kronis dan banjir kortisol menghancurkan kesehatan dari dalam. Dampak medis jangka panjangnya meliputi hipertensi kronis, gangguan metabolisme pemicu obesitas abdominal, kecemasan akut, depresi berat, hingga peningkatan risiko kanker pemicu kematian dini. Anggapan masyarakat mengenai kebohongan pemicu kutukan memiliki penjelasan ilmiah: kebohongan patologis merusak organ fisik pelakunya sendiri.

Kebohongan politik gaya mitomaniak merupakan masal moral atau janji kampanye serta gangguan mental dan biologis serius pemicu kerusakan struktur sosial. Publik dituntut selalu waspada, melatih insting kritis, serta tidak terbuai topeng kesempurnaan para mitomaniak.

Opa Jappy | Pro Life Indonesia

Mythomania | Opa Jappy
Mythomania | Opa Jappy