Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Esai Digital, "Penulis, Penulisan, Publikasi Mythomania"

11 September 2026   08:06 Diperbarui: 11 September 2026   08:06 297 1 0

Jurnalisme Kebohongan|Opa Jappy 
Jurnalisme Kebohongan|Opa Jappy 


Ironi Penulis, Penulisan, dan Publikasi Mythomania

Dunia literasi dan jurnalisme idealnya berdiri di atas fondasi kejujuran, integritas, dan verifikasi fakta. Namun, kini, terjadi pergeseran paradigma yang mengkhawatirkan. Ruang publik dan publikasi diwarnai kebohongan patologis yang sangat mengkuatirkan. Hal itu terjadi akibat adanya"Jurnalisme Mythomania," suatu kondisi ketika penulis, jurnalis, atau pembuat konten secara kompulsif merangkai narasi fiktif, hoaks, atau manipulasi informasi, untuk bertahan hidup, memuaskan dorongan narsistik, mempertahankan status, dan lain sebagainya.

Penulis atau jurnalis yang terjangkit mythomania umumnya menggunakan Strategi Tabrak Lari. Menggunakan ruang publik atau media untuk memproduksi opini dan berita bohong. Mereka menyebarkan "janji manis" atau informasi spektakuler demi pujian, pengakuan eksistensi, dan dorongan narsisme (mendapat "like and views") bahkan kekacauan narasi tanpa rasa bersalah.

Di balik tulisan yang meyakinkan, produksi narasi mereka didorong oleh ketidakstabilan psikologis, seperti gangguan kepribadian narsistik, borderline, hingga kepribadian antisosial; serta upaya menjatuhkan orang lain atau saingan. Model Publikasi jurnalisme Mythomania sangat  dikenali melalui beberapa indikator dan karakteristik utama. Misalnya

  1. Menulis dan Publikasi Sesuai Pesanan. Menghasilkan konten demi keuntungan finansial atau pesanan pihak tertentu dengan sengaja menabrak nilai-nilai kejujuran, fakta, dan realitas, serta tanpa membawa nilai edukasi bagi publik.
  2. Pencitraan Manipulatif. Sengaja membangun citra positif untuk membungkus atau menutupi keburukan, ketidakbenaran, ketidakadilan, pengrusakan lingkungan, sentimen SARA, serta berbagai kejahatan lainnya.
  3. Konten Dangkal. Menyajikan tulisan atau konten singkat tanpa dilengkapi analisis yang mendalam dan komprehensif.
  4. Judul Bombastis (Clickbait). Menggunakan judul-judul yang hiperbolik, provokatif, dan bombastis semata-mata untuk menarik perhatian tanpa didukung fakta yang valid.
  5. Anonimitas (Tanpa Nama Penulis). Publikasi umumnya tak mencantumkan nama penulis secara jelas (tanpa byline/anonim) guna menghindari akuntabilitas dan tanggung jawab moral.
  6. Provokatif dan Destruktif. Bersifat provokasi, mengejar sensasi, menyebarkan ajakan untuk membenci, serta menyerang siapa saja atau apa saja yang berbeda pandangan

Dampak pada Masyarakat. Ironi terbesar terjadi ketika publik, yang haus informasi dan literasi, justru mengonsumsi karya-karya dari para jurnalis atau penulis mythomaniak.

  1. Erosi Kepercayaan Publik. Ketika artikel atau konten yang diterbitkan terbukti didasari oleh manipulasi fakta, kepercayaan masyarakat terhadap pers dan ruang literasi runtuh.
  2. Kecanduan Validasi. Penulis mythomaniak memanfaatkan kebohongan demi mendapatkan engagement, pujian, dan panggung. Mereka menciptakan narasi hiperbolik yang membius pembaca.
  3. Ketidakmampuan Mengontrol Kompulsi. Karena didasari oleh dorongan patologis dan kelainan neurobiologis, penulis mythomaniak kerap kali tidak mampu berhenti menciptakan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan lama yang mulai terbongkar.

Beban dari jurnalisme mythomania  berdampak buruk pada publik, dan secara ilmiah  merusak diri sang penulis itu sendiri. Masyarakat dan lembaga pers perlu mengasah daya kritis (literasi kritis) dalam menyeleksi karya tulis serta mendeteksi ketidakkonsistenan narasi yang disajikan oleh para pembuat konten. Dunia jurnalisme harus dibersihkan dari praktik-praktik manipulatif yang diusung oleh para jurnalis mythomaniak. Sudah saatnya publik tidak mudah terpesona oleh topeng kesempurnaan "ODGJ Elite", dan kembali pada prinsip dasar literasi bermartabat yang terverifikasi, kejujuran, dan akuntabilitas.


Opa Jappy | Jurnalis
Pegiat Literasi Publik