Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Ironi Penulis, Penulisan, dan Publikasi Mythomania
Dunia literasi dan jurnalisme idealnya berdiri di atas fondasi kejujuran, integritas, dan verifikasi fakta. Namun, kini, terjadi pergeseran paradigma yang mengkhawatirkan. Ruang publik dan publikasi diwarnai kebohongan patologis yang sangat mengkuatirkan. Hal itu terjadi akibat adanya"Jurnalisme Mythomania," suatu kondisi ketika penulis, jurnalis, atau pembuat konten secara kompulsif merangkai narasi fiktif, hoaks, atau manipulasi informasi, untuk bertahan hidup, memuaskan dorongan narsistik, mempertahankan status, dan lain sebagainya.
Penulis atau jurnalis yang terjangkit mythomania umumnya menggunakan Strategi Tabrak Lari. Menggunakan ruang publik atau media untuk memproduksi opini dan berita bohong. Mereka menyebarkan "janji manis" atau informasi spektakuler demi pujian, pengakuan eksistensi, dan dorongan narsisme (mendapat "like and views") bahkan kekacauan narasi tanpa rasa bersalah.
Di balik tulisan yang meyakinkan, produksi narasi mereka didorong oleh ketidakstabilan psikologis, seperti gangguan kepribadian narsistik, borderline, hingga kepribadian antisosial; serta upaya menjatuhkan orang lain atau saingan. Model Publikasi jurnalisme Mythomania sangat dikenali melalui beberapa indikator dan karakteristik utama. Misalnya
Dampak pada Masyarakat. Ironi terbesar terjadi ketika publik, yang haus informasi dan literasi, justru mengonsumsi karya-karya dari para jurnalis atau penulis mythomaniak.
Beban dari jurnalisme mythomania berdampak buruk pada publik, dan secara ilmiah merusak diri sang penulis itu sendiri. Masyarakat dan lembaga pers perlu mengasah daya kritis (literasi kritis) dalam menyeleksi karya tulis serta mendeteksi ketidakkonsistenan narasi yang disajikan oleh para pembuat konten. Dunia jurnalisme harus dibersihkan dari praktik-praktik manipulatif yang diusung oleh para jurnalis mythomaniak. Sudah saatnya publik tidak mudah terpesona oleh topeng kesempurnaan "ODGJ Elite", dan kembali pada prinsip dasar literasi bermartabat yang terverifikasi, kejujuran, dan akuntabilitas.
Opa Jappy | Jurnalis
Pegiat Literasi Publik