Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Paradoks Pluralisme Indonesia | Antara Idealitas Kebinekaan dan Realitas Kontradiktif
Bhinneka Tunggal Ika fondasi utama hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Tapi ....! Potret realitas sosial melalui data statistik menunjukkan bahwa (i) dinamika pluralisme serta toleransi di akar rumput berjarak dari idealisme; (ii) terlihat kontradiksi mendasar saat keramahan sosial berdampingan erat bersama batas-batas toleransi kaku.
Wajah Ganda Toleransi. Masyarakat Indonesia menunjukkan sikap terbuka dalam ranah sosial harian. Sebesar 81,5% warga tak menjadikan latar belakang agama sebagai pertimbangan utama berteman, serta mayoritas tidak keberatan memiliki tetangga beda suku maupun agama. Sikap inklusif tersebut sirna saat memasuki area personal. Terbukti, 84,13% responden menolak keras pernikahan beda agama, memperlihatkan pembatasan tegas antara ruang interaksi sosial umum dan hubungan personal.
Batas Kaku Keberagaman. Keramahan sosial terbentur garis batas kaku sewaktu berhadapan dengan keyakinan di luar norma dominan. Terhadap individu tidak beragama (ateis), tingkat penerimaan masyarakat anjlok signifikan;
Berdasarkan berbagai data dan jejak digital:
Oleh sebab itu, penyelesaian radikalisme, melalui pendekatan pembinaan atau rehabilitasi (33,7%) dan penindakan hukum ekstrem seperti hukuman mati (25%). Pada konteks, sikon, dinamika, serta pergulatan hidup dan kehidupan berbangsa, Alm Ahmad Syafi'i Maarif, mengingatkan bahwa data-data di atas berfungsi sebagai cermin untuk merefleksikan posisi bangsa. Di balik tenangnya narasi persatuan, pluralisme di Indonesia dihadapkan pada paradoks nyata.
Akhir Bertutur. Masa depan kebhinekaan Indonesia bergantung penuh pada kemampuan masyarakat beserta pemimpin membangun literasi ideologi inklusif serta menghadirkan keteladanan nyata di ruang publik.
Opa Jappy | Lukisastra
Pro Life Indonesia